Rukun Tetangga, Sistem Masyarakat Terkecil Warisan Jepang di Indonesia

Rukun Tetangga, Sistem Masyarakat Terkecil Warisan Jepang di Indonesia
RT dan RW ternyata dipengaruhi oleh sistem kependudukan Jepang. (Radarbanyumas/Ahmad Erwin)

Rukun tetangga menjadi sistem masyarakat terkecil dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Namun, siapa sangka sistem yang tampak sangat 'lokal' itu ternyata merupakan warisan Jepang di Indonesia? 

Inibaru.id – Kendati terasa sangat "lokal", sistem masyarakat terkecil di negeri ini yang dikenal sebagai Rukun Tetangga (RT) rupanya bukanlah warisan budaya Nusantaraa. Sistem itu merupakan warisan Kekaisaran Jepang pada Perang Dunia ke-2 yang saat itu menduduki Indonesia.

Sistem terkecil dalam kelompok masyarakat itu diperkenalkan kali pertama di Pulau Jawa pada Januari 1944. Tonarigumi namanya, yang kurang lebih berarti "kerukunan tetangga". Tonarigumi terdiri atas 10-20 kepala rumah tangga, diketuai Tonarigumichō yang diangkat Kuchō alias Lurah.

Tonarigumi diperkenalkan Kekaisaran Jepang di Jawa yang saat itu dikendalikan Angkatan Darat atau Rikugun. Meski begitu, angkatan lautnya, Kaigun, kemudian juga ikut mengenalkan sistem masyarakat ini ke sejumlah daerah "kekuasaann"-nya yakni Sulawesi dan wilayah timur lainnya.

Memudahkan Koordinasi

Meski Indonesia sudah merdeka, sistem kependudukan Jepang masih diadopsi dengan sebutan yang diubah. (Solopos/Is Ariyanto)
Meski Indonesia sudah merdeka, sistem kependudukan Jepang masih diadopsi dengan sebutan yang diubah. (Solopos/Is Ariyanto)

Semula, tujuan utama sistem masyarakat ini adalah untuk memudahkan pengawasan terhadap orang-orang lokal, selain demi melancarkan komunikasi antarwarga. Sistem RT juga dilakukan untuk sistem koordinasi antara warga dengan pemerintah Jepang di Indonesia.

Nggak hanya di Indonesia, struktur kemasyarakatan terkecil ini juga dibuat di Manchuria, Semenanjung Korea, Kepulauan Sakhalin, dan pelbagai wilayah di Asia Tenggara.

Untuk mempermudah koordinasi, setiap Tonarigumi kudu menggelar rapat berkala atau disebut Tonarigumijōkai yang harus dilaporkan saban bulan. Mereka melaporkan ke tingkat yang lebih tinggi, yang disebut Chonaikai atau rukun kampung.

Chonaikai umumnya seukuran satu kampung atau desa yang terdiri atas 5-6 Tonarigumi. Saat ini, kelompok masyarakat tersebut lebih dikenal sebagai rukun warga (RW). Setiap Chonaikai harus melakukan Azajōkai, rapat berkala yang dilakukan sekali dalam sebulan.

Basis Militer Jepang

RT dan RW menjadi basis militer Jepang saat Perang Dunia ke-2. (Military)
RT dan RW menjadi basis militer Jepang saat Perang Dunia ke-2. (Military)

Semula hanya dipakai untuk basis koordinasi dan komunikasi, Jepang yang pada Perang Dunia ke-2 mulai terdesak memanfaatkan Tonarigumi dan Chonaikai sebagai basis militer. Mereka kemudian dipaksa menjadi tentara sekunder di bawah Kekaisaran Jepang untuk melawan Sekutu.

Nahas, Jepang menjadi tim yang kalah dalam perang yang melibatkan lebih dari 100 juta pasukan militer itu. Wilayah Jepang yang diambil alih AS seperti Korea Selatan, Vietnam, dan Filipina, memilih menghapuskan sistem Tonarigumi pada 1947. Sementara di Indonesia, sistem itu cuma berganti nama.

Nggak hanya di Pulau Jawa, penggunaan RT dan RW untuk menandai kelompok terkecil suatu wilayah juga berlaku hampir di semua wilayah di Indonesia, kecuali sejumlah provinsi seperti Aceh dan Bali yang memiliki sistem kependudukan sendiri dan sudah dijalankan sejak lama.

Saat ini, fungsi RT dan RW masih sama, yakni mempermudah koordinasi antarwarga dan birokarasi ke tingkat yang lebih tinggi. Yap, mempermudah! Namun, pernah nggak sih, alih-alih mudah, kamu justru terhambat karena proses yang ribet dan lama di tingkat RT dan RW? (Wik/IB09/E03)