Ritus Suku Saghe Menyambut Kedatangan Imam Baru

Kehadiran imam baru bagi pemeluk Katholik Suku Saghe disambut dengan pelbagai ritus adat. Penghormatan terhadap “pemangku umat” di situ.

Ritus Suku Saghe Menyambut Kedatangan Imam Baru
Topi songke menyambut kehadiran Imam Baru, Pater Gabriel Akhir, SVD, di Kampung Waekolong, Desa Ranakolong, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Kamis (12/10/2017).(Kompas.com/Markus Makur)

Inibaru.id – Pertengahan Oktober 2017, warga Kampung Waekolong, Desa Ranakolong, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur bergembira.  Warga dan Umat Stasi Mesi, Paroki Santo Agustinus Mok dengan pakaian adat songke dan kebaya menunggu di pintu gerbang kampung itu untuk menyambut Imam Baru, Pater Gabriel Akhir, SVD, yang sudah menerima Rahmat Imamat di Ledalero.

Seperti ditulis KompasTravel (7/11/2017), kegembiraan dan kebahagiaan atas rahmat itu disambut dengan berbagai ritus adat dari Suku Saghe. Hal pertama yang dilakukan tua-tua adat Suku Saghe bersama warga Desa Ranakolong adalah menyambut Imam Baru di pintu gerbang kampung itu dengan ritual Kepok dengan tuak adat yang sudah simpan didalam Tawu.

Baca juga: Dari Portugal dan Hawaii Jadilah Keroncong

Sebelum dilangsungkan Kepok Sundung atau sapaan penyambutan, tua adat yang sudah ditunjuk, Bernadus Jabur bersama tua-tua adat lainnya menyapa Imam Baru dengan sapaan bahasa adat Mbaen yang langsung dituturkan di pintu gerbang kampung itu.

Selanjutnya, dua anak gadis, Lilis dan Kristina Nggose mengalungkan kain selendang songke juga memakai topi adat kain songke.

Ritus adat di pintu gerbang selesai, seterusnya Imam Baru dan rombongan diarak dengan tarian Ana Jara oleh kaum perempuan dari Desa Ranakolong. Pagar betis dilakukan oleh siswa dan siswi SDI Mesi dan SMPN Mesi bersama dengan siswa dan siswi SMK Negeri Betong Torok.

Sebelum Imam Baru itu masuk di rumah orang tuanya untuk dilangsungkan berbagai ritus adat, terlebih dahulu tua-tua adat menerimanya di pintu masuk dengan Kepok Sundung, yakni sapaan adat dalam ritual penyambutan.

Sebuah tawu yang berisi moke lokal sudah disediakan tua adat lainnya sebagai tanda penghargaan dan penghormatan kepada Imam Baru tersebut.

Penyambutan di pintu masuk rumah keluarga merupakan sebuah ritus dari Suku Saghe untuk menghormati dan menghargai Imam Baru atas rahmat Imamat yang diterimanya.

Setelah ritual Kepok Sundung selesai dilaksanakan, selanjutkan tua-tua adat berbaur dengan kaum perempuan dari Suku Saghe melangsungkan Danding dengan melingkar di halaman rumah orang tua imam baru tersebut.

Baca juga: 
Soya Soya, Tari Pemantik Semangat Prajurit Ternate
Tari Sakral dari Kasunanan Surakarta

Nyanyian-nyanyian adat dilantunkan oleh tua-tua adat bersama dengan kaum perempuan yang turut bergembira atas rahmat itu.

Setelah tarian Danding selesai, Imam Baru bersama rombongan masuk di dalam rumah untuk melangsungkan ritus Kapung.

Kapung dalam bahasa Kolor berarti “memangku seseorang”, namun dalama ritus ini dilakukan dengan seekor ayam jantan.

Seekor ayam jantan yang disiapkan keluarga Imam Baru untuk melangsungkan ritus Kapung di rumah orang tua Sang Imam  di Kampung Waekolong.

Tua adat Suku Saghe, Bernadus Jabur kepada KompasTravel menjelaskan, ritus Kapung adalah ritus menerima Imam Baru. Ritus ini juga dilaksanakan apabila ada tamu yang mengunjungi Desa Ranakolong, anak-anak lulus sekolah serta acara perkawinan. (EBC/SA)