Pak Ponjen, Ritual Unik di Pernikahan Si Bungsu

Penyelenggaraan pernikahan bagi mereka yang bungsu memang berbeda. Ada yang namanya Pak Ponjen. Apa itu ya?

Pak Ponjen, Ritual Unik di Pernikahan Si Bungsu
Pasangan mempelai sedang bersiap mengikuti ritual adat pernikahan Pak Ponjen. (youtube.com)

Inibaru.id – Namanya Pak Ponjen. Ritual khusus yang harus dilalui pengantin bungsu setelah ijab kabul. Sewaktu tradisi ini berlangsung terdapat hal-hal menarik, mulai dari gelak canda tawa akibat bersenggolan antarwarga, hingga riuhnya anak-anak maupun warga yang saling sikut demi memperoleh uang koin yang disebar oleh pemuka agama.

Maksud dari ritual ini adalah mendoakan dan memberi bekal atas selesainya tugas orangtua mengantarkan anak terakhir ke jenjang pernikahan.

Syafrukanh.blogspot.com, (17/5/2017) menulis, Ma’ruf (39), mengatakan kalau ritual ini sudah lama dilestarikan dan selalu dinanti oleh pengiring pengantin maupun warga sekitar.

Anak-anak berebut uang receh yang dilemparkan pemangku agama saat tradisi Pak Pojen berlangsung 
(weddingorganizerkaranganyar.blogspot.com).

Prosesi Pak Ponjen

Acara dibuka dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh pemuka agama. Jika sudah selesai berdoa, pemuka agama dan pasangan suami-istri dari kakak tertua memimpin adik-adiknya (secara berurutan: dari adik kedua hingga terakhir) untuk memegang ujung belakang baju saudaranya. Selanjutnya mereka akan memutari gentong atau paso yang ditutup tampah sebanyak 3 kali. Sebelum memutari gentong, di belakang pengantin, setelah ditunjuk oleh pemuka agama, ada seseorang yang membawa pecut laiknya seorang kusir yang  mengendalikan kereta kuda.

Sewaktu mengitari gentong, pembawa pecut akan melantunkan sholawat nabi agar keberkahan dan kebahagian senantiasa dirasakan oleh pengantin setelah menikah nanti. Pecut diartikan sebagai pemacu semangat pasangan pengantin dalam berumah tangga, semangat dalam bekerja maupun semangat menjalani hidup bersama. “Sebagai simbol semangat, proses mecuti sebaiknya dilakukan dengan keras,” imbuh Ma’ruf.

Di putaran ketiga, si pengantin wajib menendang gentong hingga pecah dan air di dalamnya tumpah, kemudian pemuka agama akan menyebarkan beras kuning beserta uang receh yang bermakna berbagi rezeki ke keluarga maupun warga.

Sewaktu beras kuning dan uang receh disebar, warga akan saling rebut, sikut, hingga terjatuh demi mendapatkannya. Jangan salah sangka, meski warga saling sikut demi mendapat uang receh, mereka tetap tertawa, lo! Ya, itung-itung bercanda sekaligus mencari untung dari uang renceh yang didapat. He-he-he.

Nah, sebagai akhir ritual adat pernikahan Pak Ponjen, pemuka agama menutupnya dengan membaca doa keselamatan yang diikuti oleh pasangan pengantin, keluarga, dan warga.

Di daerahmu ada tradisi juga nggak, Millens? Jika ada, jangan lupa dilestarikan, ya, agar nggak hilang dimakan zaman.(MG10/E05)