Republik Pertama di Nusantara, Republik Lanfang: Awal Terbentuk hingga Kehancuran

Republik Pertama di Nusantara, Republik Lanfang: Awal Terbentuk hingga Kehancuran
Keberadaan Tionghoa di Singkawang nggak lepas dari Kerajaan Sambas di Kalimantan Barat. (Shutterstock)

Jauh sebelum Indonesia berdiri, berdiri negara republik di Nusantara yang diberi nama Republik Lanfang. Negara ini dihuni oleh para imigran dari Tiongkok. Seperti apa perjalanan negara yang eksis selama satu abad ini?

Inibaru.id – Orang-orang Tiongkok memang terkenal sebagai imigran ulung. Hampir nggak ada tempat di dunia ini yang nggak ada orang Tionghoanya. Nah, mereka mulai masuk ke Nusantara pada abad ke-18 tepatnya di Kalimantan Barat.

Waktu itu mereka didatangkan oleh Kesultanan Mempawah dan Sambas untuk menambang emas dan timah. Di kawasan tersebut memang kaya akan emas dan timah. Nantinya, para imigran ini bersatu dan membentuk republik pertama di Nusantara, bernama Republik Lanfang.

Yang datang bukan cuma ratusan tapi puluhan ribu pekerja. Mereka kemudian membentuk kelompok atau kongsi dagang yang diatur berdasarkan wilayah pertambangannya. Di area kongsi yang mirip perkampungan itu mereka menjalani hidupnya sebagaimana di kampung halaman. Mereka menjalanan tradisi dalam kehidupan sehari-hari.

Awal Terbentuk

Tadinya, kongsi itu hanya 8 kelompok, kemudian menjadi 14 kelompok. Mereka memang dibawahi Kesultanan Sambas maupun Mempawah, tapi diberi keleluasaan untuk mengatur dirinya sendiri, termasuk pengangkatan pemimpin.

Satu-satunya hal yang diatur adalah kewajiban menyetor emas sebanyak 1 kg setiap bulan untuk masing-masing kongsi.

Kehidupan mereka bsa dibilang jauh lebih baik dibanding orang Melayu atau Dayak. Karena merasa kuat, mereka tergerak untuk membangkang. Memasuki tahun 1770, kongsi-kongsi itu menolak menyerahkan 1 kg emas seperti perjanjian. Mereka hanya bersedia menyerahkan separuhnya.

Para imigran ini pada akhirnya benar-benar terlibat peperangan dengan warga local. Sejumlah pejabat kesultanan Suku Dayak bahkan tewas.

Insiden ini membuat pihak kesultanan murka, terutama Sambas. Sultan Umar Aqamaddin II yang saat itu meimpin Sambas mengirimkan pasukan untuk membasmi aksi pemberontakan tersebut. Pertempuran terjadi selama 8 hari. Namun, karena kalah kuat, para imigran menyerah.

Meski mereka terbukti bersalah, Sultan Sambas nggak memberikan hukuman berat. Mereka diizinkan kembali bekerja di pertambangan namun tetap harus menyetor 1 kg emas saban bulan.

Pada 1776, dari 14 kongsi yang ada, 12 kongsi berada di wilayah Kesultanan Sambas dengan pusatnya di Montraduk. Sedangkan 2 kongsi lainnya ada di wilayah Kesultanan Mempawah dan berpusat di Mandor. Jumlah pada 1770 mencapai 20 ribu orang.

Membentuk Aliansi

Ilustrasi: Para imigran menjalankan tradisi seperti di kampung halaman. (pinterest)<br>
Ilustrasi: Para imigran menjalankan tradisi seperti di kampung halaman. (pinterest)

Ke-14 kongsi tersebut akhirnya membentuk aliansi dalam satu organisasi yang diberi nama Hee Soon pada 1777. Mereka bertujuan untuk memperkuat persatuan sekaligus mencegah terjadinya polemik antar-kongsi seperti yang pernah terjadi pada 1774. Terbentuknya organisasi ini menjadi embrio berdirinya Republik Lanfang.

Pada 1793, Republik Lanfang dideklarasikan di bawah naungan Kesultanan Pontianak. Kesultanan ini berdiri usai mengalahkan Mempawah pada 1789. Para imigran berhasil “selamat” karena skill lobi dari seorang tokoh bernama Lo Fang Pak. Dia pandai mencari pihak yang lebih menguntungkan. Dia yang notabene adalah pimpinan Hee Soon bahkan mendukung penyerangan Pontianak terhadap Mempawah. Dia juga diangkat menjadi presiden pertama Lanfang.

Diberi keleluasaan yang besar membuat Lanfang menjadi lebih berkuasa. Bisa disebut Negara dalam Negara gitu, Millens. Pemerintah Republik Lanfang hanya harus membayar upeti bulanan kepada dua Kesultanan Pontianak dan Sambas. Kejayaan Republik Lanfang juga mendapat pengakuan dari Dinasti Qing di Tiongkok. Secara rutin Lanfang mengirimkan upeti ke sana.

Republik Lanfang pun memiliki undang-undang yang mengatur tata negara, hukum, ekonomi, pendidikan, dan sektor-sektor penting lainnya. Mereka bahkan sudah memiliki dewan pemerintahan, pengadilan, penjara, bahkan pasukan bersenjata (M.D. La Ode, Etnis Cina Indonesia dalam Politik, 2012:229).

Keruntuhan Republik Lanfang

Riwayat Republik Lanfang di Kalimantan Barat berlangsung cukup lama, yaitu 107 tahun. Lama juga ya? Perjalanan negara mereka nggak selalu mulus. Mereka bahkan berpolemik dengan orang-orang Dayak, Kesultanan Landak, juga Mempawah, hingga mengekspansi tambang emas di wilayah lain. Selama satu abad lebih itu, Lanfang telah memiliki 13 presiden. Seperti proses dalam Negara demokrasi lainnya, kesemua presiden dipilih langsung oleh rakyatnya melalui pemilihan umum.

Sebenarnya, kemunduran Republik Lanfang mulai tampak ketika memasuki 1880 seiring dengan semakin kuatnya pengaruh Belanda di Borneo, termasuk Kalimantan Barat. Dengan terpaksa, Presiden Republik Lanfang saat itu menandatangani perjanjian di Batavia. Otomatis, Republik Lanfang berada di bawah kendali Belanda.

Ternyata langkah ini nggak semuanya disetujui kongsi. Beberapa kongsi kemudian menyerang Belanda. Lanfang ditaklukkan pada 1884. Sang presiden terakhir Lanfang LiuAh Sin tewas dalam pertempuran tersebut. Republik Lanfang hancur total.

Rakyat Republik Lanfang yang tersisa berusaha memloloskan diri dengan mengungsi ke pulau-pulau seberang. Sebagian membangun kehidupan baru di suatu wilayah yang nantinya dikenal dengan nama Singapura.

Hm, ternyata jauh sebelum Indonesia berdiri sudah ada republik lain ya, Millens? (Tir/IB21/E03)