Arak Tumpeng dan Ingkung, Tradisi Saparan Warga Lereng Merbabu

Arak Tumpeng dan Ingkung, Tradisi Saparan Warga Lereng Merbabu
Prosesi arak-arakan tumpeng, ingkung,dan gunungan sayuran pada Tradisi Saparan warga lereng Merbabu.(Borobudur News)

Masyarakat lereng Gunung Merbabu mempunyai tradisi unik saat Safar tiba. Mereka mengarak nasi tumpeng, ingkung, dan gunungan berisi sayuran hasil panen berkeliling desa.

Inibaru.id – Memasuki bulan kedua pada penanggalan Hijriah yakni Safar, masyarakat di beberapa daerah punya tradisi Saparan. Kendati sama-sama bernama tradisi Saparan, kegiatan yang dilakukan antara suatu daerah dan daerah lain berbeda, lo. Salah satunya yakni seperti yang dilakukan warga Dusun Sanden, Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Bagi warga yang tinggal di lereng Gunung Merbabu itu, tradisi Saparan dimaknai sebagai bentuk rasa syukur warga atas hasil panen yang melimpah. Sebagai informasi, 500 orang dari 183 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di desa ini mayoritas berprofesi sebagai petani sayuran.

Selain itu, tradisi Saparan juga bertujuan untuk menolak bala. Pada acara tahunan ini, mereka akan memasak tumpeng dan ingkung ayam jago sebanyak 300 buah. Ratusan tumpeng itu nantinya akan dikumpulkan di halaman Bayan atau kepala dusun (kadus) di kampung.

Suaramerdeka, Senin (6/11/2017), menulis, setelah dikumpulkan, kiai atau sesepuh desa akan membacakan doa di hadapan ratusan tumpeng dan ingkung itu. Sajian ini kemudian diarak atau dikirab keliling kampung menuju perbatasan Magelang-Boyolali. Ada pula gunungan berisi sayuran hasil panen warga yang turut diarak keliling.

Prosesi arak tumpeng dan ingkung ini dipimpin seseorang dengan membawa dupa sambil membaca doa dengan berjalan kaki. Di belakang pemimpin itu, ada barisan warga yang menggunakan pakaian adat Jawa, disusul barisan ibu-ibu yang membawa nasi tumpeng dan ingkung.

Setelah sampai perbatasan wilayah Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, warga kembali lagi menuju kampung yang berada di kaki Gunung Merbabu.

Usai diarak, tumpeng dan ingkung itu ditaruh di pertigaan jalan desa untuk kembali didoakan. Setelah berdoa, ingkung dan tumpeng itu kemudian disantap bersama-sama dengan seluruh warga desa. Sementara itu, gunungan yang tersusun dari sayur-sayuran akan direbutkan warga, terutama anak-anak.

Konon, tradisi ini sudah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun. Diharapkan, tradisi tersebut tetap terjaga dan dilestarikan masyarakat. Kalau di tempatmu, tradisi Saparannya seperti apa Millens? (IB07/E04)