Pohon Sawo dan Jaringan Loyalis Pangeran Diponegoro

Pohon Sawo dan Jaringan Loyalis Pangeran Diponegoro
Pohon sawo sebagai simbol perlawanan dan jaringan loyalis Pangeran Diponegoro. (Devianart)

Sawo yang ditanam di pelbagai rumah, pesantren, dan masjid, ternyata nggak hanya berfungsi sebagai peneduh. Ini merupakan simbol jaringan loyalis Pangeran Diponegoro.

Inibaru.id – Jaringan ulama dan santri yang loyal pada Gerakan Pangeran Diponegoro melawan penjajahan Belanda lahir di banyak pesantren yang tersebar di Jawa. Nggak hanya itu, pesan tersirat juga ditanam oleh Pangeran Diponegoro dengan meminta kiai menanam pohon sawo.

Pohon sawo merupakan tanda jaringan Pangeran Diponegoro. Jika ditemukan pohon sawo di dekat rumah atau tempat tertentu, bisa dipastikan mereka adalah pendukungnya.

Semua bermula dari perlawanan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa. Perang melawan Belanda ini berlangsung kurang lebih lima tahun. Sepak terjang sang Pangeran sukses membuat Belanda kelabakan. Mereka pun memakai siasat lain yaitu dengan berunding.

Sayangnya, Pangeran Diponegoro enggan melakukan diskusi dengan Belanda. Baginya, melakukan diskusi berarti menerima kehadiran Belanda sebagai penjajah.

Nggak kehabisan akal, Belanda meminta raja-raja dan para kiai agar Pangeran Diponegoro mau bertemu. Pangeran Diponegoro menyetujuinya dengan syarat nggak ada senjata. Maklum, waktu pertemuan ini diadakan pada Hari Raya Idulfitri, sehingga agendanya murni bersilaturahmi.

Masjid Pathok Nagari Ploso Kuning, Yogyakarta dengan pohon sawo di pelatarannya. (Republika)
Masjid Pathok Nagari Ploso Kuning, Yogyakarta dengan pohon sawo di pelatarannya. (Republika)

Lahirnya Simbol Pohon Sawo

Pertemuan berakhir dengan pihak Belanda yang ingkar, mereka datang dengan senjata yang lengkap. Pangeran Diponegoro yang nggak ingin ada perang saat momen sakral, menghadapi dengan tenang tanpa perlawanan.

Kepada Kiai Badrudin, Pangeran Diponegoro berbisik agar setelah ini untuk menanam sawo sebagai simbol jaringan mereka. Dari sini, Kiai Badrudin menyampaikannya kepada kiai lain, sehingga tersebar di pelbagai daerah di Jawa.

Pohon sawo ada dua macam, pohon sawo kecik dan sawo biasa. Yang menjadi simbol para loyalis ini adalah sawo kecik. Dengan adanya pohon tersebut, pejuang lebih mudah melakukan perlawanan serentak dan tahu mana sekutunya.

Perintah ini menyebar dengan cepat ke semua pelosok daerah dan pesantren, dalam waktu dekat pohon sawo ditanam di pesantren dan masjid-masjid. Menanam sawo kala itu sebagai lambang melawan penjajah.

Kini, sawo hanyalah pohon, bukan lagi simbol perlawanan terhadap penjajah. Bahkan, banyak pohon sawo di pesantren yang akhirnya ditebang. 

Duh, sayang banget ya, pohon bersejarah ini hilang begitu saja, Millens? (Rep/IB31/E05)