Petaka Ken Arok, Kepincut Betis Ken Dedes yang Bercahaya

Petaka Ken Arok, Kepincut Betis Ken Dedes yang Bercahaya
Lukisan Ken Dedes. (Malangnews)

Ingat kisah Ken Arok dan Ken Dedes? Dikisahkan Arok jatuh cinta pada Dedes karena melihat betisnya yang tersingkap dan memancarkan cahaya terang. Tapi, gara-gara betis itu juga nyawa Arok beserta 7 keturunannya harus binasa.

Inibaru.id – Dalam Kitab Pararaton, Dedes digambarkan sebagai perempuan sempurna. Wujud dewi di bumi gitu, deh, nggak ada saingan! Namun, kecantikannya yang tumpah-tumpah ini juga yang membuatnya masuk dalam “masalah”. Dia diculik dan dipaksa menikah dengan Tunggul Ametung.

Bukan cuma sang Akuwu Tumapel itu yang terpana pada kecantikannya, Arok yang kala itu menjadi prajurit pun jatuh hati. Menariknya, Arok dikabarkan tergila-gila pada Dedes saat melihat betisnya tersingkap ketika hendak turun dari pedati.

Penasaran dengan hal langka yang dilihatnya, Arok bertanya  pada guru sekaligus ayah angkatnya, Lohgawe.

Kata brahma yang datang dari India ini, perempuan yang memiliki madyar hamurup (cahaya bersinar) merupakan Sri Nariçwari. Dia akan membawa bahagia dan siapa pun yang memperistrinya akan menjadi raja besar.

Mendengar itu, keinginan Arok untuk memiliki Dedes kian menggebu meski saat itu sang permaisuri tengah hamil muda. Berbagai strategi dilancarkan demi menggulingkan Tunggul Ametung dan menikahi Dedes.

Dengan keris “terkutuk” Mpu Gandring, Arok membunuh sang Akuwu dan merebut kekuasaan. Meski menjadi raja Singosari dengan gelar Sri Ranggah Rajasa, serangkaian tragedi penuh darah terjadi. Arok berakhir di tangan Anusapati, putra Dedes dengan Tunggul Ametung, dengan keris yang sama pada 1247 M.

Pertirtaan Watu Gede

Pertirtaan Watu Gede. (jernih.co) 
Pertirtaan Watu Gede. (jernih.co) 

Petirtaan yang menjadi saksi saat Arok kali pertama melihat betis Ken Dedes dikenal sebagai pertirtaan Watu Gede. Kolam kuno tersebut berada di Dusun Sanan, Watu Gede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Jaraknya sekitar dua kilometer dari Pasar Singosari.

Tempat ini termasuk situs penting. Dulu, ada 16 jaladwara atau arca berbentuk patung berderet di tepian kolam yang mengalirkan air. Sayangnya, arca tersebut kini tinggal satu. Situs ini juga kabarnya kurang terawat dengan baik.

Meski begitu, masih banyak orang yang mengunjunginya. Banyak yang percaya air kolam memiliki tuah, misalnya membuat panjang umur, menyembuhkan penyakit, awet muda, dan terkabul keinginannya.

Mereka yang menganut Kejawen dan Hindu baik dari Jawa atau Bali banyak yang datang untuk sembahyang. Hm, sayang banget ya kalau sampai rusak, Millens. (His/IB21)