Perang Obor Jepara: Bukan Kesumat, Tapi Saling Merawat
Sesepuh desa sedang membawa obor. (Inibaru.id/ Pranoto)

Perang Obor Jepara: Bukan Kesumat, Tapi Saling Merawat

Yang namanya perang, lazimnya akan menimbulkan kebencian bahkan dendam kesumat. Namun, perang yang satu ini justru berbeda. Perang Obor, namanya.

Inibaru - Perang Obor adalah ritual khas yang hanya ada di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Kegiatan ini rutin digelar satu tahun sekali, dan menjadi ajang tolak bala, sekaligus penarik wisatawan, yang sudah kondang ke seantero nusantara, lo. Seperti yang terjadi pada Senin (5/8), ritual Perang Obor kembali digelar, mulai pukul 19.30 WIB.
 
Acara dimulai dari kediaman Kepala Desa Tegalsambi Agus Santoso. Nampak sebuah cobek dari tanah liat berisikan kembang setaman, berikut kemenyan dibawa oleh seorang perangkat desa. Di kanan kiri, ada sosok pembawa obor diikuti Kebayan Leger yang membawa dua pusaka kepunyaan desa.
 
Lalu rombongan tersebut berjalan kaki sekitar 500 meter menuju sebuah simpang jalan (perempatan) desa, yang konon menjadi cikal bakal terjadinya kisah Perang Obor.
 
Di sana doa dilantunkan dan sesaji dalam wadah cobek tanah liat dibakar. Setelah itu, obor yang terbuat dari pelepah kelapa dan dibalut daun pisang kering setinggi lebih kurang 2 m disulut. Barulah diikuti obor-obor lain ikut disulut.
 
Seorang perangkat desa membawa cobek tanah liat, yang digunakan untuk menyulut api. (Inibaru.id/ Pranoto)
 
Pada kesempatan itu, dilakukan juga penyulutan obor secara simbolis oleh Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara Zamroni Leztiaza.
 
Setelah itu, sejumlah 400 batang obor kemudian mulai satu persatu disulut. Perang dimulai. Perang Obor 2019 diikuti oleh 40 peserta laki-laki. Ada syarat khusus untuk dapat ikut.
 
"Yang pertama berani, bernyali dan tidak boleh sama sekali dendam setelah acara," tegas Kepala Desa Tegalsambi Agus Santoso.
 
Benar saja, setelah dibuka secara resmi para peserta larut dalam peperangan. Ada lawan dan ada kawan. Begitu seorang musuh mengangkat tinggi Obor, yang lain menyongsong, lalu saling beradu Obor. Braaak!!!
 
Obor yang mengenai badan peserta seketika memercikan api dan debu. Penonton bersorak...hey...hey...hey....
 
Begitulah suasana perang Obor setiap tahun. Meskipun terlihat berbahaya, namun banyak yang menonton, dari jarak dekat.
 
Lalu sakitkah bila terkena percikan api?
 
Ya jelas sakit, Millens! Rasanya panas sekaligus pedih di mata. Namun tenang, panitia telah menyediakan ramuan tradisional terbuat dari minyak kelapa murni, yang telah direndam selama setahun menggunakan berbagai rupa bunga. Khasiatnya, menyembuhkan luka bakar.
 
Para peserta, setelah berperang biasanya akan langsung membalurkan minyak itu ke tubuh mereka. Mereka, baik lawan ataupun kawan, mengambil minyak dari satu wadah yang sama.
 
"Tidak ada dendam, karena ini sudah menjadi tradisi," ucap Rifki, seorang peserta Perang Obor, sambil menyungging senyum.
 
Menarik juga ya, Millens. Kamu sudah pernah nonton langsung belum? (Pranoto/E05)