Penamaan Purbalingga, Berkaitan dengan Istilah 'Lingga' Batara Siwa?

Penamaan Purbalingga, Berkaitan dengan Istilah 'Lingga' Batara Siwa?
Ada beberapa versi tentang asal nama Purbalingga. Salah satunya adalah dari kata 'lingga' yang berkaitan dengan alat kelamin. Benarkah? (javatravel.net)

Dalam Hindu, 'lingga' adalah simbol kesuburan berbentuk objek tegak berdiri yang merupakan perwujudan alat kelamin Dewa Siwa. Sementara, dalam bahasa Sanskerta, 'purba' berarti kuno atau lampau. Namun, apakah Purbalingga berkaitan dengan istilah itu?

Inibaru.id – Sebagian masyarakat Jawa Tengah, khususnya yang tinggal di bagian selatan kerap menjadikan Purbalingga, salah satu kabupaten yang bersebelahan dengan Banyumas, sebagai guyonan. Mereka bilang, kota penghasil knalpot dan bulu mata itu berarti "alat kelamin lelaki zaman bahela".    

Dalam bahasa Sanskerta, "purba" berarti kuno atau bahela, sedangkan lingga adalah alat kelamin laki-laki. Kalau digabungkan, guyonan itu memang ada benarnya. Namun, jika menilik lebih jauh, tentu saja penamaan tersebut tentu saja nggak cuma "alat kelamin purba".

Perlu kamu tahu, dalam ajaran Hindu, lingga adalah objek pemujaan berbentuk tegak yang biasanya disebut siwalingga atau alat kelamin Batara Siwa, satu dari tiga dewa utama.

Purbalingga dan Lingga Purba

Situs purbakala lingga-yoni di Desa Kedungbenda, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga. (Lesta1690.blogspot)
Situs purbakala lingga-yoni di Desa Kedungbenda, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga. (Lesta1690.blogspot)

Lingga adalah lambang kesuburan, yang juga berarti purusa atau jiwa, sang penyebab sesuatu. Nah, lawannya adalah yoni, simbol alat kelamin perempuan yang berarti pradana atau raga. Dalam Hindu, yoni merupakan wadah, perwujudan dari istri (sakti) Batara Siwa. 

Di Purbalingga, bukan hal yang sulit untuk menemukan situs lingga-yoni itu, di antaranya di Kecamatan Karangmoncol, Kutasari, dan Kemangkon. Kota kelahiran Jenderal Soedirman itu bahkan diduga menjadi tempat tinggal manusia purba, yakni hunian pertama ras Austronesia.

Maka, bukan nggak mungkin kalau Purbalingga diambil dari kata "lingga purba" lantaran di kota tersebut banyak terdapat lingga yang berusia purba.

Kiai Purbasena dan Linggasena

Desa Wisata Karangbanjar di Kecamatan Bojongsari, Purbalingga. (Instagram/tentang_fendy)
Desa Wisata Karangbanjar di Kecamatan Bojongsari, Purbalingga. (Instagram/tentang_fendy)

Selain versi lingga purba, ada pula cerita lain tentang penamaan Purbalingga, yang berkaitan dengan kisah rakyat yang cukup melegenda di sana, yakni Kiai Purbasena dan Linggasena. Masyarakat percaya, kedua kiai itulah pendiri Purbalingga.

Kendati nggak terdapat sumber yang cukup meyakinkan, warga setempat sangat percaya bahwa nama Purbalingga diambil dari penggabungan nama Purbasena dan Linggasena lantaran merekalah yang membabat alas dan menjadikannya sebagai cikal bakal tanah Purbalingga.

Tiap tahun, pada perayaan hari jadi Kabupaten Purbalingga yang jatuh pada 19 Desember, pemkab setempat selalu melakukan kirab pusaka berupa tiga bilah tombak dan keris yang diyakini merupakan gaman dari kedua kiai tersebut.

Perang Mangkubumen dan Kiai Arsantaka

Tempat wisata menawan di Kutabawa Flower Garden di Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. (Instagram/wisnudrone)
Tempat wisata menawan di Kutabawa Flower Garden di Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. (Instagram/wisnudrone)

Kemudian, dari bukti tertulis, Purbalingga telah disebutkan dalam empat kitab, yakni pada Babad Onje, Babad Purbalingga, Babad Banyumas, dan Babad Jambukarang. Nama Purbalingga sudah dikenal sejak abad ke-18, seiring dengan Perang Mangkubumen antara Mangkubumi dengan Pakubuwono II.

Perang Jenar, bagian dari Perang Mangkubumen, memunculkan satu sosok bernama Kiai Arsantaka, anak Bupati Onje II yang semasa muda bernama Arsakusuma. Tokoh yang nantinya menurunkan para bupati Purbalingga itu berperang di bawah kadipaten Banyumas yang masuk kekuasaan Surakarta, yang dipimpin Pakubuwono II.

Lantaran dianggap berjasa, Adipati Banyumas R Tumenggung Yudanegara mengangkat Kiai Arsayuda, anak Kiai Arsantaka, sebagai menantu. Arsayuda lalu diangkat menjadi Tumenggung Karangwelas, wilayah kekuasaan Banyumas, dan bergelar Raden Ngabehi Dipoyudo III.

Atas saran Kiai Arsantaka yang menjadi penasehat, pusat pemerintahan Karangwelas dipindahkan ke Desa Purbalingga. Pasca-Perang Diponegoro 1830, seluruh wilayah mancanegara (yang belum masuk kekuasaan Belanda) Surakarta, mengalami "penataan" dan menjadi bagian dari Hindia-Belanda, termasuk Purbalingga.

Purbalingga di bawah kekuasaan Belanda dipimpin oleh Raden Tumenggung Dipokusumo II. Tampuk kekuasaan kemudian berpindah sebanyak enam kali hingga Indonesia merdeka.

Wah, sejarah yang panjang ya, Millens! Kamu sudah tahu tentang sejarah di kotamu sendiri belum, nih? (Pur/IB09)