Orang Jawa Pernah Baik-Baik Saja Hidup Tanpa Nasi

Orang Jawa Pernah Baik-Baik Saja Hidup Tanpa Nasi
Kini nasi dianggap sebagai makanan pokok orang Indonesia. Padahal, dulu nggak begitu. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Orang Indonesia belum merasa makan kalau belum makan nasi. Padahal, kalau kita menilik sejarah beberapa puluh tahun lalu, nasi bukanlah makanan pokok sebagian besar orang Indonesia. Bahkan, dulu orang Jawa pernah baik-baik saja lo hidup tanpa nasi.

Inibaru.id – “Kurang lengkap rasanya kalau makan tanpa nasi.” Ungkapan ini benar-benar diamini oleh mayoritas orang Jawa. Realitanya, nasi kita makan tiga kali sehari dan kita seperti belum merasa kenyang kalau belum memakannya. Padahal, di zaman dulu, orang Jawa baik-baik saja lo hidup tanpa nasi.

Lantas, seperti apa sih awal mula dari kebiasaan makan nasi orang Jawa? Kalau soal ini, kita bisa merunut jauh ke zaman kerajaan dulu, Millens. Contohlah, di dalam naskah kuno Tantu Panggelaran yang digubah pada abad ke-15, ada cerita unik tentang beras.

Dalam naskah ini, tertulis kalau ada empat ekor burung yang melintas, yakni merpati hitam, perkutut, puter, dan derkuku merah tunggangan Bhatara Sri. Sayangnya, ada lima anak Raja Makukuhan yang berburu dan kemudian mengincar keempat burung tersebut. Untungnya, yang jatuh justru adalah biji-bijian yang burung-burung tersebut bawa.

Lantas, anak-anak tersebut memakan biji-bijian dan tinggal menyisakan kulitnya saja. Raja Makukuhan yang mengumpulkan sisa kulit serta biji hasil buruan anak-anaknya kemudian menanamnya. Nah, ternyata yang tumbuh adalah padi.

Migrasi Padi ke Indonesia

Meski kini jadi makanan pokok nomor wahid di Tanah Air, padi bukanlah tanaman asli Indonesia. Realitanya, tanaman ini berasal dari India dan dibawa oleh para pedagang yang singgah ke Nusantara. Anthony Reid dalam buku Asia Tenggara Kurun Niaga 1450-1680 menulis padi cepat disukai masyarakat Nusantara karena bisa tumbuh dengan subur.

Jagung dan keluarga umbi-umbian sebagai makanan pokok masyarakat Jawa jaman dahulu. (Pexel/FRANK MERIÑO)
Jagung dan keluarga umbi-umbian sebagai makanan pokok masyarakat Jawa jaman dahulu. (Pexel/FRANK MERIÑO)

Padi makin populer kala VOC berjaya dan memonopoli perdagangan di Nusantara. Beras bahkan jadi barang dagangan andalan di masa itu hingga diekspor ke Belanda atau negara-negara Asia Selatan. Menariknya, meski menanamnya, beras masih belum jadi makanan pokok orang Nusantara.

Saat itu, masyarakat Indonesia hanya memandang padi sebagai komoditas utama perdagangan saja. Apalagi, harganya cukup mahal karena pasokannya juga nggak banyak. Soal makanan, mereka lebih memilih yang murah seperti singkong dan jagung. Nah, gara-gara hal ini juga, muncul pola pikir kalau beras alias nasi adalah makanan yang lebih enak.

Produksi Beras Meningkat Usai Indonesia Merdeka

Orang Indonesia mulai memproduksi beras secara besar-besaran pada awal abad ke-19. Kala itu, khususnya di Pulau Jawa, ada kebijakan mencetak sawah lebih banyak. Akibatnya, banyak ladang dan kebun yang awalnya jadi tempat menanam umbi-umbian berganti menjadi sawah padi.

Sayangnya, karena pengalaman dan ilmu menanam padi yang belum baik, ditambah dengan adanya paceklik, produksi padi nggak seperti harapan. Padahal, banyak orang Indonesia yang mulai mengonsumsinya karena beralih dari jagung dan umbi-umbian.

Kebijakan swasembada beras yang dicanangkan Presiden Soeharto benar-benar mengubah kebiasaan makan orang Indonesia, khususnya orang Jawa. Stok beras yang melimpah membuat orang Jawa kemudian terbiasa makan nasi setiap hari, bahkan sampai tiga kali. Sejak saat itu pulalah, orang Jawa seperti merasa belum makan kalau belum menyantap nasi.

Kalau kamu, apakah bisa makan meski nggak pakai nasi seperti orang Jawa di zaman dahulu, Millens? (His, Suk/IB31/E07)