Nyi Tuk Sari dan Sejarah Berdirinya Kampoeng Wisata Taman Lele

Nyi Tuk Sari dan Sejarah Berdirinya Kampoeng Wisata Taman Lele
Sejarah Taman Lele nggak lepas dari kisah Nyi Tuk Sari. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Di Semarang terdapat tempat wisata alam sejuk bernama Kampoeng Wisata Taman Lele atau yang terkenal dengan sebutan Taman Lele. Letaknya di Jalan Walisongo KM 10 Kecamatan Ngaliyan Semarang. Tempat ini juga nggak lepas dari sosok Nyi Tuk Sari. Hm, seperti apa ya kisahnya?

Inibaru.id – Taman Lele pertama kali ditemukan oleh masyarakat sekitar pada 1932. Kala itu ada pohon beringin besar yang di bawahnya ada sendang berair jernih dengan sumber mata air yang cukup besar. Di sendang itulah ada banyak ikan lele yang jumlahnya ribuan. Saking banyaknya ikan lele di tempat tersebut maka dinamailah Taman Lele.

Sampai pada 1976 Taman Lele masih di bawah pengelolan Pemerintah Kabupaten Kendal. Setelah pemekaran Kota Semarang akhirnya dikelola oleh Pemerintah Kota Madya Semarang di bawah Dinas Taman Hiburan Rakyat (THR) Semarang.

Taman Lele menjadi bagian dari Unit Pengelola Daerah (UPD) Taman Margasatwa dan Kebun Raya Tinjomoyo Semarang (UPD Taman Margaraya) sub seksi Taman Reptil dan Pisces pada 1989. Selain lele, ada pula koleksi ular dan buaya. 

Area sendang Taman Lele. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Pada 7 Agustus 2003 karena perampingan Dinas UPD, di bawah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang, mereka mengganti Taman Reptil dan Pisces sebagai Kampoeng Wisata Taman Lele Semarang hingga sekarang ini.

Masyarakat menggunakan sumber mata air Taman Lele untuk kebutuhan air sehari-hari. Air sendang mitosnya juga dipercaya dapat menyembuhkan beragam penyakit dan obat awet muda. Ada pula yang percaya mengunjungi Taman Lele pada hari Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon akan mendapat berkah berupa penglarisan, kenaikan pangkat, jodoh, dan lainnya.

Kepercayaan ini nggak terlepas dari sosok perempuan bernama Nyi Tuk Sari, penunggu sendang. Itu kenapa sumber air tersebut juga dinamai Sumber Nyi Tuk Sari. Dia memiliki dua penjaga bernama Lele Truno (yang hanya memiliki kepala dan duri tanpa daging) dan Bulus Mote (mewujud bulus yang memiliki mutiara di kepala).

Taman Lele ramai dikunjngi pada hari Minggu. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Tradisi selamatan juga dilakukan oleh masyarakat sekitar di lokasi sendang. Ini sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas sumber air yang diberikan. Sebagai penghormatan pula agar sumber air tetap lestari. Generasi anak cucu diharapkan menjadi penerus yang dapat menjaga kebersihan dan kelestarian sumber dengan cara nggak berbuat kotor, nggak berkata kotor, dan nggak berpikiran kotor di lokasi sendang.

Semoga sendang Taman Lele ini selalu terawat ya, Millens. (Isma Swastiningrum/E05)