Nyawer Biduan Dangdut, Seperti Apa ya Sejarahnya?

Nyawer Biduan Dangdut, Seperti Apa ya Sejarahnya?
Budaya nyawer biduan dangdut, cukup marak terjadi di Indonesia. (Kompas/Abdullah Fikri Ashri)

Setiap kali ada pertunjukan musik dangdut, pasti ada penonton yang nyawer sang biduan. Sebenarnya, sejak kapan ya tradisi saweran ini muncul?

Inibaru.id – Di Indonesia, masih banyak orang yang menggelar pertunjukan musik dangdut untuk hajatan. Nah, kalau kamu cermati, setiap kali ada gelaran dangdut, pasti ada penonton yang nyawer biduannya. Penasaran nggak sebenarnya sejak kapan budaya nyawer biduan ini muncul?

Biasanya, penonton yang memberikan saweran akan mendekati biduan yang sedang menyanyi. Ada yang bahkan sampai naik ke atas panggung. Nah, sembari mendendangkan lagu, biduan tersebut menerima saweran yang seringkali berupa uang tunai dengan jumlah bervariasi.  Seringkali, uang saweran yang didapat biduan dangdut dalam sekali pementasan bisa mencapai jutaan rupiah, lo!

Omong-omong, terkait dengan tradisi nyawer biduan dangdut, pengamat musik senior Bens Leo punya cerita sejarahnya, Millens. Dilansir dari Detik, Kamis (19/9/2019), dia menyebut tradisi ini sudah dilakukan masyarakat Indonesia sejak sebelum mengenal musik dangdut modern.

“Sudah jadi tradisi lama. Misalnya di Tari Tayup, Tledek, Ronggeng, dan lain-lain, penarinya menerima saweran juga,” ucap Bens Leo.

Hal yang sama juga diungkap Dr Ahmad Zainul Hamdi, dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Dalam artikel yang diunggah Sindonews, Rabu (23/9/2022), Ahmad menyebut praktik saweran lazim ditemui saat masyarakat Indonesia menonton seni Tayub, Lengger, dan Jaipong pada zaman dahulu.

Terkadang, dalam sekali pementasan, para biduan dangdut bisa mendapatkan uang jutaan rupiah. (VIVA.co.id/Zahrul Darmawan)
Terkadang, dalam sekali pementasan, para biduan dangdut bisa mendapatkan uang jutaan rupiah. (VIVA.co.id/Zahrul Darmawan)

Baik dalam pertunjukan tayub maupun lengger, laki-laki yang ingin bertandak dengan sang penari harus nyawer sang penari, baik dari tangan ke tangan maupun memasukkan uang ke dalam kemben sang penari,” tulisnya dalam artikel berjudul Dangdut, Sawer, dan Kejantanan Laki-Laki tersebut.

Ahmad juga mengungkap makna sawer. Menurutnya, sawer seperti honor ekstra atau tip bagi para biduan atau penari yang sudah menghibur.

Menariknya, Ahmad juga mengungkap jika banyak laki-laki yang nyawer biduan sebenarnya bukan berasal dari kalangan ekonomi menengah atau atas. Bahkan, bisa jadi pendapatan mingguannya nggak sampai honor sekali tampil para biduan tersebut.

Menurut penelitiannya, Ahmad juga menyebut nyawer belum populer di pertunjukan musik dangdut pada dekade 1990-an. Tapi, semua berubah sejak popularitas dangdut koplo meningkat tajam pada awal 2000-an. Sejak saat itu, bukan hal aneh melihat penonton menyawer biduan dangdut di atas panggung.

Kalau di tempat tinggalmu, apakah masih ada tradisi nyawer biduan dangdut, Millens? (Arie Widodo/E05)