Nggak Cuma Gaya Surakarta, Jawa Tengah Punya Dua Gaya Wayang Lainnya

Millens, gaya pentas wayang rupanya berbeda-beda, lo. Di Jawa Tengah, ada tiga gaya besar dalam pentas wayang. Simak ulasan berikut, yuk!

Nggak Cuma Gaya Surakarta, Jawa Tengah Punya Dua Gaya Wayang Lainnya
Sesi penyerahan wayang secara simbolis kepada ketiga dalang pada acara Pentas Seni Tradisi Gaya Wayang Jawa Tengah, Sabtu (3/2/2019) di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Inibaru.id – Indonesia memang negara yang kaya akan budaya. Mulai dari bahasa, tarian hingga adat istiadat masyarakat bisa berbeda antara satu wilayah dan wilayah lain. Pertunjukan wayang juga nggak luput dari perbedaan itu.

Dalam pertunjukan wayang, setiap wilayah punya kekhasan masing-masing. Di Jawa Tengah saja, misalnya, ada tiga gaya yang bisa digunakan dalam pentas wayang. Gaya tersebut biasa disebut gagrak.

“Jawa Tengah itu kalau gaya kebudayaannya dipetakan ada tiga gaya besar yakni gaya istana (Surakarta), gaya Banyumas, gaya pesisiran,” ungkap Ketua harian Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jawa Tengah Widodo Brotosejati yang ditemui saat Pentas Seni Tradisi Gaya Jawa Tengah, Sabtu (3/2/2019) di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Perbedaan gaya ini disebabkan karena karakteristik masyarakat yang berbeda pula. Masyarakat keraton lebih bersifat halus dan sangat menjunjung unggah-ungguh. Tentu berbeda dengan wilayah Banyumas yang masyarakatnya banyak berprofesi sebagai petani yang memiliki gaya lugas. Sementara itu, daerah pesisiran mendapat banyak akulturasi budaya karena para pedagang dari luar Jawa sering singgah di sana.

Nah, setiap gaya pementasan wayang itu memiliki kekhasan masing-masing, Millens. Kekhasannya bisa berupa pembawaan dalang waktu pentas, bisa juga unsur percampuran di dalam pentas wayang itu.

Supaya nggak bingung, simak ulasan tiga gaya pentas wayang berikut, ya!

Gaya Surakarta

Ki Manteb Sudarsono mementaskan wayang gaya Surakarta pada Pentas Seni Tradisi Gaya Jawa Tengah, Sabtu (3/2/2019) di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Surakarta atau masyarakat kerap menyebut Solo dianggap sebagai pusat kebudayaan Jawa. Adanya keraton di daerah tersebut menjadi salah satu alasan mengapa daerah yang ada di bagian tengah Jawa Tengah ini dijadikan pusat kebudayaan.

Gaya pentas wayang Surakarta dijuluki dengan adiluhung yang berarti tinggi mutunya.

“Keraton itu karena priyayi jadi punya waktu utk memikirkan seni dengan kualitas yg rumit. Lebih up to date, maka produk seni kraton itu dikenal adiluhung,” lanjut Widodo.

Di pentas seni yang digelar Pepadi Jateng tempo hari, gaya Surakarta ini dibawakan salah satu dalang kondang yakni Ki Manteb Sudarsono. Tahu kan, dalang yang terkenal dengan jargon oye itu, lo?

Gaya Banyumas

Ketua Pepadi Pusat Kondang Sutrisno memberikan wayang sebagai simbol mulai pementasan kepada dalang Ki Sigit Aji Sabdo Priyono yang mewakili gaya Banyumas. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Bergeser ke barat, kamu akan menemukan Banyumas. Wilayah ini terkenal dengan bahasa Ngapak yang unik dan terkesan berbeda dengan bahasa Jawa ala keraton. Selain bahasa, gaya pembawaan dalang saat mementaskan wayang juga lebih energetik.

“Kalau Banyumas itu Cablaka, budaya petani di pedalaman, jadi ekspresi seninya ceria, meriah,”

Hal lain yang membedakan wayang Banyumas dengan yang lain adalah goro-goro atau selingan yang disematkan dalang dalam salah satu episode. Goro-goro ini biasanya ditandai dengan munculnya punakawan yang terkenal jenaka.

Oh iya, gending yang digunakan untuk mengiringi pentas wayang juga berbeda, lo. Saat pentas wayang di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Sabtu (3/2) lalu, gaya Banyumas diwakili Ki Sigit Aji Sabdo Priyono.

Gaya Pesisiran

Dalang Ki Sigid Ariyanto menerima pemberian wayang dari Ketua Pepadi Jawa Tengah Untung Wiyono sebaga simbol dimulainya pentas wayang. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Beralih ke pesisir utara Jawa yang membentang dari Kabupaten Brebes di barat hingga Rembang di timur. Karena memanjang, gaya pesisiran ini dibagi lagi menjadi dua yakni gaya pesisiran timur dan gaya pesisiran barat.

“Gaya pesisiran dibagi dua Semarang ke timur itu khasnya Rembang, Lasem. Pesisir ke barat itu berpusat di Tegal,” ujar lelaki yang berprofesi sebagai dosen di Universitas Negeri Semarang.

Gaya pesisiran ini mendapat campuran budaya dari para pedagang asing yang masuk lewat pelabuhan-pelabuhan yang ada. di Semarang saja, gaya pentas wayangnya dipengaruhi empat kebudayaan yakni Arab, Jawa, Tionghoa, dan Eropa.

Salah satu yang paling khas dari gaya pesisiran wilayah Lasem adalah adanya srepeg Lasem dan pathetan Lasem. Kedua hal itu adalah alunan gending yang mengiringi pertunjukan wayang.

Eits, meski berbeda, ketiganya punya kesamaan, kok. Persamaan ketiga gaya itu adalah lakon yang diceritakan yakni Mahabarata dan Ramayana.

Gimana, masih bingung dengan gaya wayang di Jawa Tengah? Mending nggak perlu pusing-pusing deh tapi langsung nonton wayang saja biar paham. He-he. (Ida Fitriyah/E05)