Nggak Bisa Pulkam, Ini Gambaran Ramadan Anak Kos di Tembalang

Nggak Bisa Pulkam, Ini Gambaran Ramadan Anak Kos di Tembalang
Belanja kebutuhan pangan ke pasar tradisional sekarang menjadi kebiasaan para perantau menjelang Ramadan. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Karena wabah Covid-19 makin mengganas di Indonesia, banyak perantau yang nggak bisa pulang kampung (pulkam) menjelang bulan Ramadan ini. Bagaimana persiapan mereka?

Inibaru.id – Sabi, nama panggilan Muhsin Sabililah, baru saja pindah indekos. Nggak berselang lama, wabah Covid-19 menyebar dengan cepat di Kecamatan Tembalang, domisilinya sekarang sebagai mahasiswa Universitas Diponegoro. Semakin hari, wabah ini semakin menyebar, sampai-sampai dia nggak bisa menikmati bulan Ramadan di rumahnya.

Budhe Sabi adalah seorang dokter yang bekerja di RSUP Kariadi. Karena itu, Sabi nggak mendapatkan restu untuk pulang kampung ke rumahnya di Cilegon, Banten karena takut menjadi carier corona.

Menghabiskan Ramadan di perantauan membuat Sabi harus mempersiapkan diri. Ketika bertemu dengan saya, Jumat (17/4), Sabi berkata bahwa dia belum menyiapkan banyak hal. Menurut Sabi, kemungkinan besar akan menyiapkan stok makanan mentah untuk berbuka puasa dan sahur.

Yang Sabi persiapkan sekarang adalah membiasakan diri untuk bisa bangun ketika sahur. Sabi berkata bahwa dia memang terbiasa dibangunkan untuk bersantap sahur. Bahkan dia membuat dua pilihan untuk sahur di perantauan: membiasakan diri bisa bangun ketika sahur atau nggak tidur sama sekali sampai jam sahur.

“Karena nyokap tuh (orangnya) nggak mau tahu. ‘Lu sahur nggak sahur, tetep puasa’,” ucap Sabi menirukan ibunya.

Sementara itu, Emiliano Nugroho, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Diponegoro,  mempersiapkan kebutuhan primer dan tersier untuk menghadapi Ramadan di tanah rantau.

Telur menjadi bahan makanan mentah yang disediakan untuk menyambut Ramadan. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)
Telur menjadi bahan makanan mentah yang disediakan untuk menyambut Ramadan. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Emil, nama panggilannya, mengontrak sebuah rumah bersama lima orang temannya. Sebelum wabah, mereka biasanya membeli makanan di burjo atau warteg. Karena wabah Covid-19 semakin mengganas, mereka mulai membiasakan diri untuk memasak. Sampai-sampai, mereka membeli peralatan masak yang cukup lengkap, Millens. Mereka membeli tabung gas, regulator gas, dan spatula untuk memasak.

Untuk sembako, mereka berenam sempat mendapatkan bantuan sembako dari salah seorang dosen.

“Untuk urusan sembako jadinya aman selama Ramadan ini,” ucap Emil ketika saya temui, Minggu (19/4). Namun, mereka masih sering berbelanja kebutuhan lain di pasar, seperti kopi, teh, tembakau, dan kentang untuk camilan.

Selain bahan pangan dan tembakau, Emil mengaku sudah mengunduh beberapa gim untuk menemaninya selama berpuasa. Hal ini dilakukan Emil untuk membunuh kebosanan selama menjalankan #DiRumahAja. Dia dan kawan-kawannya juga sering mengadakan pertandingan cup sepak bola bersama. Menurut Emil, bermain gim menjadi pilihan menarik untuk ngabuburit selama wabah ini.

“Biar cepet-cepet azan,” kelakarnya.

Kalau kamu memilih apa untuk ngabuburit selama wabah ini, Millens? (Gregorius Manurung/E05)