Mudik Jelang Imlek Jadi Momen Tahunan Masyarakat Tionghoa untuk Kembali ke Akar Rumput

Mudik Jelang Imlek Jadi Momen Tahunan Masyarakat Tionghoa untuk Kembali ke Akar Rumput
Momen Imlek digunakan masyarakat Tionghoa untuk berkumpul bersama. (Inibaru.id/ Audrian F)

Nggak cuma umat Islam yang mengenal mudik saat Lebaran. Masyarakat Tionghoa, khususnya penganut Konghucu, juga menyempatkan diri untuk mudik, yang biasanya dilakukan menjelang Tahun Baru Imlek.

Inibaru.id - Ada sebuah tradisi pada Tahun Baru Imlek yang nggak jauh beda dengan Hari Raya Idulfitri, yaitu mudik. Sebagaimana umat Islam, pemeluk Konghucu pun memanfaatkan momen Imlek untuk berkumpul bersama sanak keluarga.

Hal ini diamini Jongkie Tio. Storyteller dari Semarang yang rajin mengarsipkan berbagai bentuk sejarah orang-orang Tionghoa di Kota Lunpia ini mengatakan, masyarakat Tionghoa biasanya bakal berbondong-bondong pulang kampung.

“Kalau di Tiongkok ramai. Bandara penuh. Kereta api juga penuh. Sama lah seperti di sini (saat lebaran),” tutur Jongkie saat ditemui Inibaru.id di Restoran Semarang, Selasa (21/1/2020).

Namun, hal tersebut berbeda dengan di Indonesia. Menurut sosok 79 tahun yang kini harus berjalan dengan bantukan tongkat penyangga itu, orang Tioghioa di negeri ini macam-macam, ada yang peranakan dan perantauan yang menetap.

"Yang peranakan kayak saya ini nggak mudik,” ujarnya. 

Bagi masyarakat Tionghoa, momen mudik , menurut Jongkie, menjadi waktu yang tepat untuk kembali pada akar rumput mereka. Bedanya, Imlek sekaligus bertujuan menyongsong musim semi, beda dengan Lebaran yang waktunya berubah-ubah.

"Ya, semua kembali lagi pada tatanan agama masing-masing," terangnya, lalu tersenyum ramah.

Mirip-Mirip Lebaran

Jongkie Tio saat ditemui oleh reporter <i>Inibaru.id</i>. (Inibaru.id/ Audrian F)
Jongkie Tio saat ditemui oleh reporter Inibaru.id. (Inibaru.id/ Audrian F)

Dalam beberapa hal, tradisi Imlek memang sejatinya mirip tradisi Lebaran di Indonesia. Jongkie Tio mengatakan, beberapa tradisi pas Lebaran kayak bangun pagi, mandi dan keramas, lalu menemui orang tua untuk meminta maaf dengan cara bersimpuh, juga dilakukan orang Tionghoa.

"Cuman, sekarang anak-anak minta maafnya sambil menyodorkan tangan, minta angpao!” kelakar Jongkie.

Selain itu, masyarakat Tionghoa, tambahnya, juga bersih-bersih rumah menjelang Imlek, nggak jauh berbeda dengan tradisi umat Islam saat Lebaran. 

"Yang mungkin beda, kami kalau nyapu nggak boleh dibuang ke luar. Buang rezeki, jadi harus masuk," kata dia.

Terus, makanan! Secara umum, perayaan Imlek selalu dilengkapi dengan sajian ikan bandeng, ayam kukus, manisan, dan kue keranjang. Sementara, untuk buah, masyarakat Tionghoa menghidangkan pisang, jeruk, srikaya, dan belimbing.

Semua ada maknanya," ucapnya.

Oya, perlu kamu tahu, salah satu sajian yang juga selalu dalam rangkaian perayaan Imlek adalah Lontong Cap Go Meh. Makanan tersebut, kata Jongkie, diciptakan dan hanya disajikan di Indonesia.

“Lontong Cap Go Meh itu penutup (perayaan Imlek)," tutur lelaki paruh baya tersebut, "Seperti Bada Kupat pada rangkaian tradisi Lebaran."

Lain Dulu, Lain Sekarang

Momen Tahun Baru Imlek juga ada tradisi yang sama dengan umat Islam yaitu mudik. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Momen Tahun Baru Imlek juga ada tradisi yang sama dengan umat Islam yaitu mudik. (Inibaru.id/ Audrian F)

Hidup bertahun-tahun sebagai bagian dari masyarakat Tionghoa di Kota Semarang, Jongkie Tio mengaku telah merasakan manis-pahitnya menjadi minoritas di Indonesia. Membandingkan gimana perayaan Imlek dulu dan sekarang, dia mengatakan, tiap masa punya cerita.

"Sebelum Pak Harto (Presiden Soeharto) berkuasa, perayaan Imlek masih meriah," kenangnya, "Jalan Pemuda itu ramai kalau Imlek."

Saat Orde Baru, tutur Jongkie, umat Tionghoa dibungkam. Mereka memang tetap diperkenankan menggelar kegiatan agama, tapi nggak boleh terlampau ramai.

"Nah, setelah Gus Dur memunculkan kami kembali, segala hal tentang masyarakat Tionghoa itu kembali pulih,” ujarnya.

Jongkie merasa bersyukur karena keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia kini lebih diakui. Kendati demikian, dia kini merasa prihatin dengan hubungan antarmanusia saat ini. Sejak berkembangnya teknologi, hubungan personal, khususnya antaranggota keluarga, nggak kayak dulu lagi. 

“Ya, banyak yang berubah, tapi saya tetap mensyukuri segala limpahan berkah pada Tahun Baru Imlek,” tandasnya, menggantung.

Duh, Pak Jongkie, turut prihatin ya! Buat kamu yang merayakan Imlek, tradisi mudik mungkin perlu tetap kamu lestarikan ya, Millens! Ibarat orang Jawa, mudik itu nyambung balung! Selamat Imlek, gong xi fat chai! (Audrian F/E03)