Motif Batik di Pekalongan Juga Terpengaruh Budaya Asing

Motif Batik di Pekalongan Juga Terpengaruh Budaya Asing
Batik Motif Hokokai yang terpengaruh budaya Jepang. (Jejakbatik.blogspot)

Masyarakat memengaruhi seni. Yap, di Pekalongan, itulah yang terjadi. Sebagai kota pesisir, pengaruh budaya yang beragam tentu membuat inspirasi seni membatik menjadi lebih dinamis, beragam, dan sangat mendapat pengaruh luar, termasuk dari negara asing yang mendiami Pekalongan pada masa penjajahan.

Inibaru.id – Seperti motif Mega Mendung di Cirebon dan motif Parang di Solo, sebagai Kota Batik, Pekalongan juga memilki motif khusus, yakni Jlamprang. Namun, kota kreatif UNESCO untuk kategori crafts & folk art itu juga dikenal mempunyai motif batik yang dipengaruhi budaya asing.

Jika bertandang ke Pekalongan, kamu bakal menemukan batik Pekalongan bermotif Jawa Hokokai yang terpengaruh motif kimono Jepang, atau Batik Encim yang terpengaruh budaya Tionghoa, serta Motif Buketan dari pengaruh budaya Eropa.

Batik dengan motif “internasional” ini diperkirakan dibawa para pendatang yang datang ke Pekalongan. Sebagai kota pelabuhan, tentu saja kemungkinan itu cukup besar.

Motif Jawa Hokokai, misalnya, sangat dipengaruhi oleh kain Jepang yang umumnya bermotif bunga sakura. Besar kemungkinan akulturasi seni itu muncul pada masa penjajahan Jepang.

Selain Jawa Hokokai, motif Buketan juga cukup terkenal di Pekalongan. Motif yang merupakan perpaduan budaya masyarakat Belanda zaman kolonial dengan motif lokal ini berkembang pada kurun 1840-1940. Batik tersebut kemudian lebih dikenal dengan sebutan Batik Indo Eropa.

Nggak hanya warga lokal, keterampilan membatik di Pekalongan juga dikuasai para peranakan Indo-Eropa di Pekalongan, antara lain Matzelar , Simonet, dan Eliza Van Zuylen. Nama terakhir bahkan dikenal sebagai maestro batik di Indonesia.

Hm, sejarah yang menarik! Semoga batik di Indonesia terus lestari ya, Millens! (IB20/03)