Mitos Warga Bojonegoro dan Cepu Dilarang Mendaki Gunung Lawu

Mitos Warga Bojonegoro dan Cepu Dilarang Mendaki Gunung Lawu
Mitos warga Cepu dan Bojonegoro dilarang mendaki Gunung Lawu. (Medcom/Antara Foto/Fikri Yusuf)

Ada mitos Gunung Lawu yang dipercaya hingga sekarang, yakni warga Bojonegoro dan Cepu dilarang mendakinya. Kabarnya, hal ini terkait dengan kisah Raja Brawijaya saat memerintah Majapahit dulu.

Inibaru.id – Gunung Lawu cukup populer di kalangan pendaki gunung. Jalur yang menantang sekaligus pemandangan yang indah jadi alasannya. Tapi, ada mitos yang menyebut warga Bojonegoro dan Cepu dilarang mendaki Gunung Lawu. Kalau melanggar, kabarnya mereka bakal kena musibah.

Cepu adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Tapi, kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Jadi, meski beda provinsi, warga dari dua tempat ini secara wilayah bertetangga.

Lantas, apa alasan warga dari dua daerah ini sampai nggak boleh naik ke Gunung Lawu? Nah, Kepala Dusun Cemoro Sewu di Desa Sarangan, Magetan, Agus Suwandono menjelaskan soal mitos ini. Ceritanya, pada 1400 M, Prabu Brawijaya yang kala itu jadi Raja Majapahit adu kesaktian dengan pemimpin wilayah Bojonegoro dan Cepu.

“Mitosnya dalam legenda pemimpin Cepu dan Bojonegoro dikalahkan Brawijaya, Raja Majapahit yang bertapa di Gunung Lawu,” ungkap Agus, Kamis (12/11/2020).

Mitos ini masih dipercaya banyak orang. Apalagi, ada kasus yang membuktikannya.

“Dulu waktu kebakaran yang meninggal orang Jakarta, tapi setelah ditelusuri punya silsilah keturunan dari Cepu,” lanjut Agus.

Cemoro Sewu, salah satu jalur pendakian Gunung Lawu. (Medcom/Antara/Siswowidodo)
Cemoro Sewu, salah satu jalur pendakian Gunung Lawu. (Medcom/Antara/Siswowidodo)

Kepala Resort Pemangkuah Hutan (RPH) Sarangan KPH Lawu Kholil mengaku tahu dengan mitos ini. Bahkan, ada yang menyebut mitos larangan mendaki Gunung ini lebih luas karena diperuntukkan bagi warga Blora, Tuban, dan Bojonegoro. Meski begitu, dia lebih memilih untuk mengingatkan semua pendaki, dari manapun asalnya, untuk selalu berniat baik saat mendaki sehingga bisa selamat.

“Kalau niatnya baik, InsyaAllah juga baik, tidak ada musibah,” sarannya.

Yang menarik, selain mitos ini, ada dua mitos lain yang juga berlaku bagi para pendaki di Gunung Lawu. Mitos tersebut terkait dengan pakaian yang dikenakan pendaki. Jadi ya, mereka nggak boleh memakai pakaian dengan warna hijau dan pakaian dengan motif mrutu sewu.

Kalau soal warna hijau, larangan ini karena warna baju mirip dengan dedaunan. Jadi, andai pendaki terpisah, bakal sulit untuk ditemukan. Hal yang serupa berlaku dengan pakaian dengan motif mrutu sewu. Soalnya, motif ini akan membuat pakaiannya seperti ‘menyatu’ dengan kondisi pepohonan di sekitarnya.

“Itu menurut filosofi tradisional. Sebenarnya kalau soal percaya tidak percaya, tapi secara logika misalnya tidak boleh pakai motif mrutu sewu. Itu nanti kalau dia agak jauh dari teman-temannya nggak bisa kelihatan. Secara logika masuk akal. Ya ada yang percaya kalau itu nggak bagus untuk naik gunung,” saran Kepala Dinas Pariwisata dan Olahraga Karanganyar Titis Sri Jawoto, November 2021.

Hm, menarik juga mitos-mitos Gunung Lawu ini, ya Millens? (Sol,Det/IB09/E05)