Mitos-Mitos yang Masih Dipercaya Orang Tionghoa

Mitos-Mitos yang Masih Dipercaya Orang Tionghoa
Mitos yang dipercaya orang Tionghoa, termasuk di acara pernikahan. (Georgimabee)

Ternyata, orang Tionghoa juga masih mempercayai mitos-mitos, lo. Mitos ini berlaku dari berupa perjodohan sampai kematian. Apa saja, ya?

Inibaru.id – Layaknya orang-orang Jawa yang mempercayai kultur Kejawen untuk urusan kelahiran hingga kematian, orang Tionghoa di Indonesia juga nggak jauh berbeda, lo. Nah, mumpung sebentar lagi bakal ada perayaan Tahun Baru Imlek, yuk kita bahas mitos-mitos orang Tionghoa yang masih mereka percayai!

Kepercayaan Lancar Jodoh

Ada hal unik yang dipercaya ketika orang Tionghoa menjadi pendamping pernikahan, baik itu di pernikahan anggota keluarganya atau sahabatnya. Intinya sih, mereka harus melakoni sejumlah hal agar nantinya nggak sulit jodoh.

Pertama, mereka nggak boleh menjadi pengapit pernikahan sebanyak tiga kali kalau mereka sendiri belum menikah. Kedua, mereka nggak boleh pakai baju pengantin jika belum menikah.

Untuk para jomlo yang datang ke acara pernikahan, juga nggak boleh sembarangan. Mereka harus memakan cokelat yang biasa diberi oleh pasangan pengantin pada saat mingle (pengantin berkeliling menghampiri tamu). Kalau nggak, risikonya bisa susah jodoh, lo!

Jarak Umur dan Hitungan Jodoh

Soal usia siap menikah dan jarak umur antar-pasangan, memang persis seperti istilah "jodoh nggak ada yang tahu". Hanya, bagi orang Tionghoa, perhitungan soal ini nggak bisa asal-asalan.

Nah, buat orang-orang Tionghoa, mereka punya patokan khusus nih soal selisih umur antar pasangan. Mereka biasanya menghindari selisih umur tiga, enam, atau sembilan tahun. Orang-orang Tionghoa lebih menyarankan selisih angka empat tahun sebagai yang paling ideal. 

Menariknya, Angka Empat Sering Dihindari untuk Berbagai Urusan

Beda cerita kalau soal selisih umur pasangan menikah, ya, angka 4 malah sering dihindari untuk berbagai urusan orang Tionghoa. Maklum, angka 4 dalam bahasa Mandarin ini berbunyi (si) yang artinya adalah “mati”. Terkadang, di hotel atau mall yang dimiliki atau dikelola orang Tionghoa, penyebutan lantai 4 ditiadakan dan diganti dengan lantai 3A, lo.

Mi menjadi salah satu makanan wajib orang Tionghoa yang sedang berulang tahun. (Dapurkobe)
Mi menjadi salah satu makanan wajib orang Tionghoa yang sedang berulang tahun. (Dapurkobe)

Tradisi Makan Saat Perayaan

Jika orang Jawa terkadang merayakan ulang tahun dengan memakan nasi kuning, orang Tionghoa punya kebiasaan lain. Mereka memilih makan mi. Alasannya, mi panjang dan nggak putus sehingga bisa dijadikan simbol panjang umur.

Selain itu, setiap kali Perayaan Dongzhi pada 22 Desember, orang Tionghoa zaman dahulu bakal memakan onde-onde sebanyak usia mereka ditambah satu lagi sebagai cara agar mereka bisa panjang umur. Kalau sudah lansia dan usianya lebih dari 80, gimana menghabiskannya, ya? Hmm.

Jubah berkabung dipakai oleh keluarga Tionghoa, khususnya yang mengikuti ajaran Konghucu, saat ada anggota keluarganya yang meninggal. (Twitter/senjatanuklir)
Jubah berkabung dipakai oleh keluarga Tionghoa, khususnya yang mengikuti ajaran Konghucu, saat ada anggota keluarganya yang meninggal. (Twitter/senjatanuklir)

Rahasia Umur dan Kematian

Bagi orang Tionghoa, memakai baju terbalik dan ikat kepala berwarna putih bisa berarti kurang ajar lho. Mereka menganggap hal itu dapat mencelakakan orang tua atau mendoakan mereka cepat meninggal. Oleh karena itu, ikat putih kepala hanya dipakai saat menghadiri prosesi pemakaman orang tua yang telah meninggal saja.

Ada satu lagi, orang Tionghoa nggak pengin meninggal di hari Selasa dan Sabtu. Isunya, kalau meninggal di hari-hari tersebut, bakal "mengajak" anggota keluarga lain meninggal juga dalam waktu dekat. Hm, kok serem, ya?

Hm, kira-kira, ada mitos-mitos orang Tionghoa lain yang kamu tahu, nggak, Millens?  (PPG/IB31/E07)