Mepe Kasur, Tradisi Suku Osing Banyuwangi Jelang Iduladha

Mepe Kasur, Tradisi Suku Osing Banyuwangi Jelang Iduladha
Kasur dijemur sambil dipulkul menggunakan rotan. (Twitter/A Rahmatulah)

Mepe kasur ala masyarakat Osing di Banyuwangi diyakini bisa menghindarkan dari berbagai penyakit dan bikin rumah tangga langgeng. Tradisi ini digelar menjelang perayaan iduladha.

Inibaru.id -Menjelang Iduladha, masyarakat Osing, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi rutin menggelar tradisi unik berupa mepe kasur.  Mepe dalam bahasa Indonesia berarti menjemur. Tradisi ini dilakukan serentak oleh masyarakat Osing sebelum digelarnya Tumpeng Sewu pada malam harinya.

Menurut salah seorang warga, tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun. Masyarakat kemiren melakukan tradisi tersebut mulai tanggal 1 Zulhijah. Uniknya, kasur milik masyarakat Osing punya warna yang senada, yaitu hitam dengan pinggiran merah yang punya filosofi kelanggengan keluarga.

Selama dijemur, sang empunya sesekali memukuli kasur dengan lidi atau rotan. Mepe kasur diyakini dapat membersihkan rumah dari macam-macam penyakit. Khusus bagi yang sudah berkeluarga, tradisi ini dipercaya dapat memberikan kelanggengan.

Bahkan, masyarakat percaya, tradisi tersebut bisa memberikan kualitas tidur layaknya pengantin baru. Cukup make sense sih, karena kasur yang sudah dijemur akan kembali empuk dan nyaman digunakan. Ha-ha.

Mepe kasur dilakukan serentak. (Twitter)
Mepe kasur dilakukan serentak. (Twitter)

Ketua adat Kemiren Suhaimi mengatakan, warga Kemiren beranggapan bahwa kasur yang sangat dekat dengan kehidupan manusia dapat menjadi sumber penyakit. Oleh karena itu, kasur perlu dibersihkan agar terhindar dari berbagai penyakit.

Saat matahari terbit, kasur dijemur di halaman rumah masing-masing. Warga juga akan memercikkan air bunga di halaman rumah. Hal ini dipercaya dapat menghindarkan datangnya penyakit.

Menurutnya, mepe kasur nggak boleh dilakukan asal-asalan. Suhaimi menuturkan, kegiatan mepe kasur ini dapat dilakukan sejak pagi dan segera digulung setelah tengah hari atau matahari di atas kepala.

Konon, jika hingga matahari terbenam kasur nggak segera digulung dan dimasukkan ke rumah, khasiatnya yang dipercaya dapat menghilangkan penyakit itu pun akan sirna, alias sia-sia.

kasur punya corak yang sama! (Semarang Inside)
kasur punya corak yang sama! (Semarang Inside)

Setelah warga menggulung dan memasukkan kasur ke rumah masing-masing, tradisi akan dilanjutkan degan arak-arakan barong dari ujung desa menuju desa yang paling atas. Selanjutnya, warga akan berduyun-duyun menuju makam Buyut Cili yang diyakini sebagai penjaga desa untuk berziarah.

Malam harinya, masyarakat Osing akan menggelar Tumpeng Sewu diikuti dengan dinyalakannya obor di setiap rumah. Setiap warga akan mengeluarkan tumpeng dengan lauk khas Osing berupa pecel ayam dengan parutan kelapa.

Unik banget ya, Millens! Tradisi menjelang Iduladha di daerahmu apa, nih? (Lip/IB27)