Mengenal Sesaji Rewanda, Tradisi Memberi Makan Monyet Pasca-Lebaran

Mengenal Sesaji Rewanda, Tradisi Memberi Makan Monyet Pasca-Lebaran
Arak-arakan Gunungan buah yang akan dibawa menuju Goa Kreo. (Inibaru.id/ Audrian F)

Berpaut pada perjalanan Sunan Kalijaga hingga tercipta Goa Kreo, Sesaji Rewanda menjadi tradisi tahunan yang dikelar warga setempat, yakni di Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Tradisi yang digelar menjelang Syawal ini bahkan saat ini menjadi salah satu ikon pariwisata Kota Atlas.

Inibaru.id - Gunungan berisi nasi bungkus setinggi lebih dari dua meter di pelataran Goa Kreo itu tandas dalam sekejap pada gelaran Sesaji Rewanda, Minggu (9/6/2019). Perhelatan tahunan itu memang selalu disambut meriah. Konon, ada berkah dalam nasi berbungkus daun jati yang disajikan untuk warga tersebut.

Digelar di Goa Kreo, Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, tradisi tahunan untuk menyongsong Syawal dalam penanggalan Islam itu sejatinya diperuntukan bukan untuk manusia, melainkan monyet. Dalam bahasa Sansekerta, rewanda memang berarti monyet.

Selain gunungan nasi, masyarakat juga menyajikan tiga gunungan lain, salah satunya adalah gunungan yang terdiri atas buah dan sayur. Nah, gunungan inilah yang diperuntukkan bagi monyet berekor panjang yang banyak mendiami hutan Goa Kreo.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perhelatan kali ini pun disambut oleh antusiasme warga. Ribuan penonton memadati lokawisata yang menjadi ikon pariwisata di Semarang tersebut.

Gelaran diawali dengan arak-arakan sepanjang 800 meter dari Kampung Kandri ke Goa Kreo. Barisan terdepan terdiri atas empat orang berkostum monyet dengan warna berbeda: merah, putih, hitam dan kuning.

Mengawali berdoa sebelum memulai arak-arakan agar diberi keselamatan.(Inibaru.id/ Audrian F)

Di belakang barisan para "monyet", ada rombongan penandu replika kayu jati beserta pemeran Sunan Kalijaga dan para pengikutnya. Terakhir, ada barisan para penari dan pembawa empat gunungan, yakni gunungan nasi golong, gunungan buah, gunungan hasil alam, dan gunungan kupatan.

Gunungan nasi golong yang dibungkus daun jati biasanya berisi nasi, sayur, dan lauk berupa tahu-tempe. Masyarakat menyebutnya sega kethek. Kemudian, gunungan buah disajikan untuk monyet.

Sementara, gunungan hasil alam terdiri atas hasil bumi masyarakat Kandri. Ini merupakan wujud syukur mereka kepada Tuhan. Terakhir, gunungan kupatan terdiri atas lepet dan ketupat, menjadi simbol perayaan Idulfitri yang jatuh pada 1 Syawal.

Agus Muryanto, Lurah Desa Kandri, pada sambutannya mengungkapkan rasa syukurnya karena masih bisa terus mengembangkan tradisi ini.

“Ritual ini selain kami persembahkan untuk monyet-monyet yang ada di sini agar lebih tentram dalam menjalin kehidupan bersama, juga untuk mensyukuri atas apa yang sudah dilimpahkan oleh Allah SWT kepada alam yang subur dan lestari,” ujar Agus.

Gunungan buah-buahan akan diberikan ke monyet-monyet penghuni Goa Kreo.(Inibaru.id/ Audrian F)

Setelah gunungan tersebut diarak di pelataran Goa Kreo. Masyarakat disuguhi penampilan tari-tarian yang terdiri atas tari Gambyong, Semarangan, dan wanara yang dimainkan oleh anak-anak setempat.

Sebagai pemungkas, pengunjung kemudian diajak menyaksikan gunungan buah-buahan yang disajikan untuk para monyet. Sayang, para monyet tampak kurang bernapsu menyerbu buah-buahan, mungkin karena mereka sudah diberi makan para pengunjung sebelumnya.

Duh, bayangin monyet-monyet itu malu-malu mengambil buah, lucu banget, Millens! (Audrian F/E03)