Mengulik Ebleg, Cikal Bakal Kesenian Kuda Lumping

Mengulik Ebleg, Cikal Bakal Kesenian Kuda Lumping
Ebleg. (Facekebumen.com)

Kuda Lumping merupakan salah satu kesenian tradisional yang melegenda. Nggak hanya wisatawan lokal, wisatawan mancanegara pun mengagumi kesenian ini. Namun, tahukah kamu kalau Kuda Lumping bermula dari kesenian lain bernama Ebleg?

Inibaru.id – Kuda Lumping merupakan salah satu atraksi kesenian yang menyedot perhatian banyak orang. Atraksi makan pecahan kaca selalu jadi bagian yang ditunggu para penonton. Konon, atraksi Kuda Lumping dulunya berasal dari kesenian Ebleg. Kesenian ini lahir di Panjer yang kini berubah nama menjadi Kabupaten Kebumen.

Ebleg muncul sekitar 1600-an saat Panjer dipimpin oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Kesenian ini dulunya juga dikenal dengan nama Sendratari Perang Yudha Cakrakusuma. Agak berbeda dengan Kuda Lumping, Ebleg memiliki gerakan-gerakan yang pakem.

Barongan yang merupakan simbol Sultan Agung Hanyakrakusuma menjadi instrumen wajib dalam kesenian ini. Selain barongan, jaran kepang (kuda kepang) dengan warna putih dan hitam mewakili pasukan Mataram. Sementara, warna putih dan hitam adalah warna kuda yang digunakan pasukan ini.

https://budayajawa.id/wp-content/uploads/2019/02/kolaborasi_ebleg_kebumen_dan_tni_59_n-615x430.jpg

Ebleg. (budayajawa.id)

Gending (lagu) berjudul "Eling-Eling" dan "Rito-Rito" menjadi pengiring Ebleg. Lagu ini berisi nasihat pada generasi muda untuk tidak berfoya-foya dan selalu mengingat jasa para pahlawan.

Dalam pelaksanaannya, Ebleg memiliki beberapa pakem formasi persembahan. Formasi ini meliputi Turangga Jejer (kuda berbaris), huruf Sa dalam aksara Jawa, Kusuma Sungsang (silang), Turangga Sirep (kuda tidur), dan Turangga Lurug (kuda bangun).

Supaya tetap lestari, pemerintah Kabupaten Kebumen kini berusaha menarik minat anak muda untuk mempelajari Ebleg.

Dengan mendirikan bengkel seni, pemkab Kebumen juga berharap Ebleg bisa dikenal di daerah lain. Semoga minat anak muda Kebumen tetap tumbuh ya, Millens! (IB15/E03)