Metatah, Mengikis Sifat Buruk Melalui Tradisi Kikir Gigi di Bali

Metatah merupakan tradisi unik yang berasal dari Pulau Dewata Bali. Dalam tradisi ini remaja putra maupun putri yang sudah beranjak dewasa akan dikikir giginya. Tradisi ini bertujuan untuk menghilangkan sifat buruk manusia.

Metatah, Mengikis Sifat Buruk Melalui Tradisi Kikir Gigi di Bali
Senyum setelah Metatah (ulinulin.com)

Inibaru.id – Bali merupakan tempat yang istimewa di Indonesia. Dengan mayoritas penduduknya yang beragama Hindu, Bali menjadi tempat yang memiliki kearifan lokal dan budaya yang nggak akan kamu temui di seluruh penjuru negeri.

Salah satu tradisi unik yang ada di Bali yaitu Metatah. Tradisi ini merupakan tradisi mengikir gigi yang dilakukan kepada remaja baik putra maupun putri sebagai tanda menuju kedewasaan. Konon, tradisi yang memiliki nama lain Mepandes atau Mesangih ini merupakan utang orang tua kepada anaknya seperti yang dilansir pada laman Ulinulin.com (10/09/2017).

Dalam upacara ini, gigi yang akan dikikir sebanyak 6 buah yaitu 2 gigi taring dan 4 gigi seri bagian atas. 6 gigi yang diratakan itu merupakan perlambang dari Sad Ripu (6 musuh) yang ada pada diri manusia. 6 musuh ini dipercaya akan mendatangkan hal yang buruk sehingga perlu dihilangkan.

Sad Ripu (6 musuh) itu antara lain Kama (nafsu/keinginan yang tidak terkendalikan), Loba (ketamakan yang selalu ingin mendapatkan lebih), Krodha (amarah yang tidak terlampaui batas), Mada (rasa maduk yang menggelapkan pikiran), Moha (kebingungan yang menyebabkan seseorang sulit untuk berkonsentrasi sehingga tidak dapat menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna), Matsarya (iri hati yang menyebabkan permusuhan).

Syarat seseorang bisa melakukan tradisi ini yaitu pada perempuan ditandai dengan menstruasi yang pertama. Sedangkan pada laki-laki ditandai dengan perubahan suara. Namun nggak harus pada saat itu juga karena untuk melakukan prosesi Metatah juga diperlukan kesiapan finansial.

Sebelum acara pengikiran gigi dimulai, para peserta melakukan sungkeman terlebih dahulu kepada orang tua. Setelah itu satu per satu naik ke bale tempat pengikiran gigi.

Orang yang melakukan pengikiran adalah seorang Sangging (pembuat topeng, arca, lukisan, dan sebagainya di Bali) yang biasanya berasal dari golongan Brahmana (golongan cendekiawan yang mengetahui ajaran, pengetahuan, adat, adab hingga keagamaan).

Setelah ditatah, peserta akan diberi cermin untuk melihat penampakkan giginya. Jika dirasa belum rata maka akan ditatah lagi namun jika dirasa sudah cukup maka akan dilanjutkan dengan prosesi selanjutnya.

Prosesi selanjutnya yaitu menggigit beberapa benda. Benda itu melambangkan Sad Rasa (6 rasa). Di sini para peserta Metatah diibaratkan sudah siap merasakan semua rasa di dunia.

Nah, itu dia tradisi unik yang ada di Pulau Dewata, sangat menarik bukan? Selain untuk membersihkan diri dari sifat yang buruk, tradisi Metatah peserta juga bisa sekaligus mempercantik gigi mereka. Sekali dayung dua pulau terlampaui. He-he. (IB13/E05)