Mengenang Husein, Mengarak Tabot

Festival Tabot di Bengkulu selalu ramai. Festival itu dijadikan salah satu sajian pariwisata di provinsi itu.

Mengenang Husein, Mengarak Tabot
Masyarakat Bengkulu memadati arena Telong-Telong pada acara Festival Tabot 2015 di Bengkulu, Rabu (21/10/2016). (Antaranews.com/David Muharmansyah)

Inibaru.id – Pariwisata menjadi sektor paling greget di Indonesia belakangan ini. Potensinya besar. Pelbagai cara pun diupayakan untuk memoles sektor ini, terutama yang berhubungan dengan budaya dan tradisi.

Salah satu provinsi yang cukup bersemangat mengembangkan potensi wisata adalah Bengkulu. Sejumlah atraksi, festival, dan karnaval budaya sudah dipersiapkan. Sekurangnya ada 14 agenda untuk 2018 nanti.

Dari agenda tersebut, tiga di antaranya menjadi unggulan, yakni Festival Pesisir Panjang, Festival Bumi Raflesia, dan Festival Tabot. Nama terakhir bahkan diperkirakan bakal menjadi agenda primer di Bengkulu.

“Festival Tabot masuk dalam 100 premier event nasional,” ungkap Rohidin Mersyah, Plt Gubernur Bengkulu seperti ditulis Tempo.co, Sabtu (9/12/2017).

Festival Tabot biasanya digelar bertepatan dengan Tahun Baru Islam. Selama 10 hari, mereka berkumpul untuk memperingati kematian Husein, cucu Nabi Muhammad Saw. Ratusan ribu warga dari berbagai daerah berkumpul untuk menyaksikan arak-arakan tabot yang diselenggarakan anggota Kerukunan Keluarga Tabut (KKT) ini.

Baca juga:
Wayang Ajen a.k.a Wayang Seleb dari Kuningan
Ngerebeg, Riasan Seram untuk Membersihkan Jiwa

Husein adalah putra Ali bin Abi Thalib. Dia gugur dalam perang di Padang Karbala, Irak. Nah, untuk mengenang jasa Husein, masyarakat menyelenggarakan festival ini. Tahapan dan tujuan Festival Tabot hampir mirip dengan upacara Karbala di Iran.

Republika.co.id  (30/12/2017) menuliskan, tahun ini panitia menyelenggarakan festival Tabot di lapangan Tugu Kampung, Semarang. Selain arakan Tabot, acara juga diikuti dengan pameran produk unggulan daerah dari 10 kabupaten dan kota.

"Festival ini sudah melegenda di kalangan masyarakat lokal," ujarnya.

Ritual Tabot konon dibawa para penyebar agama Islam dari Punjab, India. Tabot yang diarak dalam ritual itu adalah bangunan bertingkat yang dibuat dengan pilihan warna beragam.

Perayaan ini diselenggarakan kali pertama oleh Syeh Burhanuddin atau lebih dikenal sebagai Imam Senggolo. Dia kemudian menikah dengan perempuan Bengkulu. Nah, keturunan Syeh Burhanuddin disebut KKT. Merekalah yang menyelenggarakan festival Tabot.

Baca juga:
Raja pun Menanak Nasi
Berebut Berkah dalam Kirab Ancak Agung

Tabot memiliki ritual yang menarik. Ada urutan untuk mengikuti ritual tersebut, yakni mengambil tanah, duduk penja, meradai, merajang, arak penja, arak serban, gam atau (masa tenang berkabung dan arak gedang serta tabot terbuang.

Nah, buat kamu yang sepertinya bakal tertarik menikmati Festival Tabot, masih ada beberapa bulan lagi untuk persiapan. Yuk, ke Bengkulu! (OS/SA)