Mengenal Para Perusuh Wangsa Mataram

Mengenal Para Perusuh Wangsa Mataram
Ilustrasi Karaeng Galesong, Raden Trunojoyo, dan Prabu Tawangalun II menyusun strategi menyerang Mataram. (Harian Merapi) 

Kekuasaan VOC di bumi Nusantara membuat banyak pemimpin kerajaan menyimpan dendam. Bukan hanya melawan perusahaan dagang tersebut, para pemimpin yang terusir dari tanah kelahirannya itu juga membidik antek Belanda. Salah satu kerajaan yang diperangi karena menghamba pada VOC adalah Mataram. 

Inibaru.id – Perubahan tujuan VOC yang tadinya untuk berdagang menjadi penjajahan membuat Nusantara kacau. Beberapa daerah yang dianggap menguntungkan ditaklukkan VOC. Salah satu daerah tersebut adalah Kerajaan Gowa.

Kerajaan ini kalah dalam peperangan dengan Belanda pada 1669, yang membuat Karaeng Galesong harus lari ke Tanah Jawa. Dia ogah jika harus tunduk pada kompeni.

Karaeng nggak sendiri. Bersamanya ada Karaeng Tallo, Sultan Harun Arrasyid, Tumenanga ri Lampana, dan saudara kandung Karaeng Tallo, Daeng Mangappa. Dua orang lainnya yang paling terkenal adalah Karaeng Galesong Tumenanga Ritappana dan Karaeng Bontomarannu Tumma Bicara Butta Gowa.

Rasanya sungguh sulit mengalahkan Belanda yang membekali diri dengan moncong meriam. Di daerah Bungaya, pada 1667, I Mallombassi Daeng Mattawang, Sultan Hasanuddin bersimpuh pada klausul Bungaya (cappaya ri Bungaya) walau sangat merugikan kerajaan.

Sebanyak 15 benteng di sepanjang pesisir selatan runtuh. Para petinggi kerajaan pun ramai-ramai tunduk pada VOC. Menurut sejarah, Karaeng Galesong masih lanjut berjuang ke Jawa.

Setelah penandatanganan perjanjian Bogaya di Makassar, para pejuang Kerajaan Makassar menjadi buronan VOC. Karaeng Galesong pun mendiami wilayah Demung.

Demung merupakan sebuah desa kecil di dekat Ketah atau Besuki di wilayah timur pulau Jawa milik Kerajaan Blambangan. Di sini juga rombongan Karaeng Galesong dengan jumlah pasukan yang besar ikut bermarkas. Sayangnya, belum ada data pasti berapa banyak pasukan Karaeng. Tapi, ada yang mengatakan jumlahnya lebih dari 4.000 prajurit.

Bahu Membahu Melawan VOC

Monumen Tulien Ngetan Ilingo Kawitane, yang menampilkan sosok Tawangalun menunjuk ke arah timur dan Macan Putih. (Todayline/Historia/Wikipedia).  
Monumen Tulien Ngetan Ilingo Kawitane, yang menampilkan sosok Tawangalun menunjuk ke arah timur dan Macan Putih. (Todayline/Historia/Wikipedia).  

FYI, pada masa itu, di wilayah Jawa Timur terdapat dua penguasa besar dan disegani, yakni Sri Susuhunan Prabu Tawangalun II di Blambangan dan Panembahan Maduretno Pangeran Trunojoyo di Sampang, Madura.

Sudah sejak lama kedua penguasa besar ini saling bantu untuk melawan VOC. Mereka berdua juga sama-sama menjadi incaran Amangkurat I, Sunan Mataram di Plered. Kedatangan Karaeng Galesong di Demung tentunya menjadi angin segar bagi Trunojoyo dan Tawangalun. Trio ini kemudian mengadakan pertemuan di Kedhaton Sampang.

Mereka bertiga sepakat bekerjasama untuk menaklukkan sang raja Mataram, Amangkurat I yang sudah bekerjasama dengan VOC. Untuk memantapkan aliansi politik ini, Trunojoyo menikahkan putrinya dengan Karaeng Galesong.

Pertemuan itu juga menghasilkan kesepakatan yaitu: Mataram akan ditaklukkan bareng untuk menumbangkan Amangkurat I, estafet kepeimpinan Mataram akan diserahkan pada Trunojoyo karena dianggap memiliki darah Matara, dan Keraton Mataram akan dipindahkan ke Daha atau Kedhiri.

Selain itu, penyerangan ini dilakukan oleh tentara pelarian dari Makassar dengan imbalan dari Trunojoyo berupa daerah daerah perbatasan Mataram dengan Blambangan (Malang dan Pasuruan). Karena nggak bisa kembali ke Makassar, imbalan ini tentu menguntungkan pihak Karaeng.

Lalu apa tugas Tawangalun II? Dia menyanggupi untuk menyediakan ransum selama dua tahun. Prajuritnya hanya akan menjadi telik sandi (mata-mata). Meskipun ingin, Kerajaan Blambangan nggak bisa berperang secara langsung dengan Mataram karena terikat perjanjian kekeluargaan dengan Sultan Agung (ayah Amangkurat I).

Mereka bersatu padu melanjutkan perlawanan di kerajaan Mataram terhadap Belanda pada 1676-1679. Bersama pasukannya, Karaeng Galesong menyerang Gresik dan Surabaya yang saat itu merupakan daerah kekuasaan Mataram. Sejarawan Belanda, Degraff menulis bahwa pasukan Karaeng Galesong berhasil mengubrak-abrik pasukan Amangkurat I.

Mereka bisa dipukul mundur ke Jawa Tengah. Keraton Plered, ibukota Mataram berhasil diduduki pada Oktober 1676. Seperti yang telah disepakati, ibukota Plered dipindah ke Kediri oleh Pangeran Trunojoyo. Amangkurat I terpaksa melarikan diri menuju Batavia. Sayangnya, kesehatannya menurun. Raja yang dikenal berperangai buruk ini mangkat di Tegal dan dimakamkan di Tegal Arum.

Tiga tahun setelah Mataram direbut, Karaeng Galesong, sang Panglima penakluk meninggal dunia. Sejarah mencatat, dia tutup usia pada 21 November 1679 di daerah Ngantang Kabupaten Malang.

Kisah kematiannya Karaeng Dalesong diperoleh sejarawan Leonard Andaya dari Kolonel Archief. Hingga kini, catatannya masih tersimpan rapi di Denhaag, Belanda. Kini, baik Karaeng Galesong maupun Trunojoyo dikenal sebagai pahlawan. Sayangnya, nggak ada yang mengenal Tawangalun II, Raja Blambangan yang juga berperan dalam menaklukkan Mataram.

Hm, sayang banget ya, Millens? (Ring/IB21/E03)