Gelar Sedekah Bumi dan Laut, Warga Tambak Lorok Semarang Larung Rumah-Rumahan Sesaji Berisi Kepala Kerbau

Gelar Sedekah Bumi dan Laut, Warga Tambak Lorok Semarang Larung Rumah-Rumahan Sesaji Berisi Kepala Kerbau
Kepala kerbau menjadi daya tarik tersendiri. (Inibaru.id/ Audrian F)

Rumah-rumahan sesaji merupakan aspek paling penting bagi terselenggaranya sedekah laut. Sebab, hal itu adalah tempat untuk melarung sejumlah pemberkatan kepada laut.

Inibaru.id - Bentuknya dibikin seperti rumah-rumahan. Di dalam dan sekelilingnya dipenuhi dengan banyak benda mulai dari palawija hasil bumi, nasi tumpeng, sesajen hingga yang utama adalah kepala kerbau. Yap, itu semua adalah bagian dari rumah-rumahan sesaji yang akan dilarung untuk kepentingan sedekah bumi dan laut warga Tambak Lorok.

Pada hari Minggu (28/7) warga Tambak Lorok menyelenggarakan sedekah laut dan bumi. Rumah-rumahan sesaji menjadi pusat perhatian masyarakat dan pengunjung yang menghadiri acara tersebut. Bahkan sebelum dilarung, rumah-rumahan sesaji tersebut dikerubungi warga sekitar. Mereka terlihat antusias menyaksikan kepala kerbau itu dari dekat dan mengabadikannya dengan gawai.

Bagi Didik, petugas pembawa rumah-rumahan sesaji, kepala kerbau itu memiliki simbol khusus Millens.

“Kapal kerbau ini artinya untuk membuang semua kebodohan yang ada di masyarakat. Diharapkan setelah ini yang sudah berada di jalan yang salah bisa kembali ke jalan yang benar,” pungkas Didik.

Sementara dari ketua acara sendiri yakni Imam Sudibyo hanya membeberkan pernyataan positif mengenai rumah-rumahan sesaji tersebut.

“Intinya ini semua perwujudan rasa syukur dari nelayan dan memohon keselamatan,” ucap Imam.

Warga berlomba-lomba mengabadikan moemen rumah-rumahan sesaji. (Inibaru.id/ Audrian F)

Rumah-rumahan sesaji tersebut sebelumnya sudah diiringi doa oleh semua warga Tambak Lorok sekaligus pelaksanaan arwah jama’ dan istighosah kerakyatan. Sebelum dilarung, rumah-rumahan sesaji ini akan dibawa oleh 7 sampai 8 orang untuk diarak dari ujung Jalan Tambak Lorok sampai dermaga nelayan.

Kemudian dalam proses pelarungan, rumah-rumahan sesaji diangkut satu kapal dan diiringi 70 kapal lainnya. Wali Kota dan wakilnya, Hendrar Prihadi serta Hevearita Gunaryanti Rahayu juga turut mengantar pelarungan rumah-rumahan sesaji tersebut.

Lokasi pelarungan berada di perairan Tanjung Mas. Jaraknya kurang lebih 25 km dari dermaga nelayan Tambak Lorok. Begitu dirasa sudah mencapai tengah laut, rumah-rumahan tersebut langsung saja ditenggelamkan agar bisa dimakan ikan-ikan. Untuk nasi tumpeng sendiri nggak dibuang karena akan dimakan oleh para nelayan yang ikut melarungkan rumah-rumahan sesaji.

Cukup unik ya, Millens. Di tempatmu ada tradisi serupa nggak? (Audrian F/E05)