Mengenal Dugderan, Tradisi Menjelang Ramadan di Semarang

Setiap daerah memiliki tradisi tersendiri untuk menyambut Ramadan, nggak terkecuali di Semarang. Nah, Dugderan adalah tradisi menjelang Ramadan di Semarang. Seperti apa ya tradisinya?

Mengenal Dugderan, Tradisi Menjelang Ramadan di Semarang
Festival Dugderan dibuka oleh para penari yang mengusung Warak Ngendhog (Inibaru.id/Artika Sari)

Inibaru.id – Menjelang Ramadan, ada tradisi unik di Semarang yang perlu kamu ketahui. Tradisi tersebut yakni Dugderan. Istilah "Dugderan" berasal dari kata dug yang merupakan bunyi dari bedug dan "deran" yakni suara meriam yang memeriahkan festival ini.

Konon, tradisi ini kali pertama digelar pada 1881 oleh Bupati Semarang Raden Mas Tumenggung Aryo Purbaningrat. Dahulu, tradisi ini dilakukan untuk menengahi perbedaan dalam menentukan awal puasa.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi membuka Festival Dugderan dengan memukul bedug. (Inibaru.id/Artika Sari)

Untuk menandai dimulainya bulan Ramadan, pemimpin akan memukul bedug diiringi dengan suara dentuman meriam sebanyak tujuh kali. Nah, itulah yang membuat festival ini dinamai Dugderan, Millens. Oh iya, saat pembukaan juga ada maskot Dugderan yang juga jadi ikon Kota Semarang yakni Warak Ngendhog. Hewan imajiner yang disebut-sebut sebagai lambang kerukunan antaretnis di Semarang ini biasanya dipanggul sejumlah orang dan turut dalam penampilan para penari pada pembukaan Festival Dugderan.

Bedug dipukul menandai datangnya bulan puasa. (Inibaru.id/Artika Sari)

Setelah dibuka Wali Kota, acara Festival Dugderan biasanya dilanjutkan dengan arak-arakan yang diikuti sejumlah warga. Mereka mengenakan berbagai kostum dan menampilkan beberapa atraksi hiburan maupun pertunjukan kesenian. Arak-arakan ini biasanya dimulai dari Balai Kota Semarang dan selesai di Masjid Agung Kauman. Namun, tahun ini rute arak-arakan diperpanjang hingga Masjid Agung Jawa Tengah.

Peserta Dugderan mengenakan pakaian adat Jawa. (Inibaru.id/Artika Sari)

Barongsai dalam Festival Dugderan mencerminkan keragaman budaya di Semarang. (Inibaru.id/Artika Sari)

Nah, selain arak-arakan, Dugderan juga diramaikan dengan Pasar Malam Dugderan. Pasar yang berada di kawasan sekitar Pasar Johar ini menyediakan bermacam-macam makanan, pakaian, bahkan mainan tradisional anak.

Kerajinan gerabah menjadi salah satu mainan anak yang banyak diperjualbelikan di pasar rakyat. (Inibaru.id/Artika Sari)

Wah, seru banget, Millens. Yuk, tahun depan nonton Dugderan. Kalau kamu pengin nonton, datang saja ke Semarang satu atau dua hari sebelum Ramadan tiba karena Dugderan biasanya digelar pada waktu-waktu itu. (Artika Sari/E04)