Mengenal BH Suroso, Kutang yang Dipakai Nenek-nenek Indonesia

Mengenal BH Suroso, Kutang yang Dipakai Nenek-nenek Indonesia
BH Suroso atau kutang Suroso yang sering dipakai nenek Indonesia. (Twitter.com/cahklaten78)

Pernah nggak terpikir bra yang dipakai nenek-nenek di Indonesia berbeda dari bra perempuan berusia lebih muda lainnya? Namanya BH Suroso atau kutang Suroso. Apa saja ya fakta unik dari bra ini?

Inibaru.id – Kamu pasti pernah melihat BH Suroso. Nama lain dari pakaian dalam yang sering dipakai nenek-nenek Indonesia ini adalah kutang Suroso. Nah, meski terkesan sebagai pakaian dalam klasik, ternyata BH Suroso ini punya nilai sejarah yang tinggi, lo, Millens.

Salah satu ciri khas dari BH Suroso ini adalah warna-warnanya yang nggak menyolok, kancingnya ada di bagian depan. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan bra pada umumnya ada di bagian punggung. Hal ini sangat penting bagi orang tua. Banyak nenek yang karena faktor usia kesulitan untuk menjangkau kancing di bagian punggung. Kalau memaksakan diri, bisa bikin cedera, deh.

Tapi, BH Suroso ini juga punya kelemahannnya tersendiri, yakni bahannya yang cenderung nggak elastis sebagaimana bra pada umumnya. Jadi, kalau mau membeli, harus bisa memastikan kalau ukurannya memang pas, nggak kebesaran, nggak juga kekecilan. Jika sampai nggak pas, ya nggak bisa dipakai.

Alasan mengapa dibuat seperti ini adalah agar nenek-nenek nggak sampai mengalami nyeri punggung akibat bra yang terlalu ketat. Wah, di balik kelemahan, ada juga manfaatnya, ya?

Bahan utama dari BH Saroso adalah kain katun. Sirkulasi udaranya dibuat sebaik mungkin agar nyaman dipakai oleh para orang tua. Soal harga, jelas cukup murah. Nah, bra-bra ini kebanyakan bisa didapatkan di pasar-pasar tradisional, bukannya di pasar swalayan atau toko-toko bermerek.

Ilustrasi: Kebanyakan pengguna BH Suroso adalah nenek-nenek. (Flickr/

Ivetta Inaray)
Ilustrasi: Kebanyakan pengguna BH Suroso adalah nenek-nenek. (Flickr/ Ivetta Inaray)

Kabarnya, bra ini sudah ada sejak zaman Indonesia belum merdeka, lo. Mungkin karena alasan ini pula banyak nenek yang masih memakainya. Mereka sudah kadung terbiasa dan nyaman memakainya selama puluhan tahun.

Sejarah Kutang Alias BH di Indonesia

Masyarakat Nusantara dulu nggak mengenal penutup dada. Jadi, wajar jika di foto-foto atau relief candi zaman dahulu terlihat wanita nggak memakai penutup dada. Tapu, hal ini mulai mengalami perubahan di masa penjajahan Belanda.

Bra masuk ke Indonesia atau saat itu dikenal sebagai Hindia Belanda opada 1910. Pembuatnya adalah Mary Phelps Jacob atau Caresse Crosby. Dia jengah dengan penggunaan korset yang bikin nggak nyaman. Setelahnya, pada 1922, Ida Rosenthal menjual bra jenis baru yang lebih nyaman dipakai. Nah, kalau iklan bra pertama yang tercatat dalam sejarah Indonesia adalah yang berjenama Bengawan Solo pada 1958.

Yang menarik adalah, salah satu pabrik di Indonesia, yakni PT Busana Remaja Agracipta ternyata masuk dalam daftar 10 besar pabrik pembuat pakaian dalam sedunia. Pabrik dari perusahaan ini ada di Bantul, DIY, dan Tangerang, Banten. Pabrik pakaian dalam lain di Indonesia yang cukup terkenal adalah Wacoal serta Mekarjaya.

Nah selain BH Suroso yang sebenarnya adalah jenama namun kadung dikenal seakan-akan sebagai jenis bra ini, ada merek-merek lain dari bra ini, yakni Trumph, Sloggie, Wacaol, dan lain-lain. Tertarik mencoba, Millens? (Lir, Tir/IB09/E05)