Mengantar Dewa-Dewa di Tay Kak Sie Pecinan Naik ke Kayangan

Mengantar Dewa-Dewa di Tay Kak Sie Pecinan Naik ke Kayangan
Mengantar dewa naik di Kelenteng Tay Kak Sie. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Menjelang Imlek, terdapat satu ritual rutin yang dilakukan di Kelenteng Tay Kak Sie. Ritual itu bernama Siang Sin Giu Hok untuk mengantar naiknya para dewa ke kayangan. Mereka melaporkan perbuatan manusia selama setahun pada Yang Maha Kuasa.

Inibaru.id – Saya tiba di Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok Semarang pada Sabtu (18/1), pukul 15.40 WIB. Sampai di sana kelenteng sangat ramai dengan umat Tridharma dan fotografer berbagai media yang ingin mengabadikan ritual Siang Sin Giu Hok atau mengantar dewa naik.

Ibadah dewa naik di Tak Kak Sie tahun ini merupakan kegiatan rutin menjelang Imlek. Proses dilakukan dengan pelantunan doa-doa yang dilakukan oleh pandita dengan jubah warna cokelat dan doa-doa tersebut diikuti oleh umat lain yang berpakaian putih atau pakaian rapi lainnya di depan altar.

Fasad Kelenteng Tay Kak Sie, kelenteng dengan dewa terbanyak di Pecinan Semarang. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Fasad Kelenteng Tay Kak Sie, kelenteng dengan dewa terbanyak di Pecinan Semarang. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Pukul 16.00 WIB tepat, lonceng di kelenteng berbunyi menandai telah dimulainya ritual. Kemudian umat Tridharma mengelilingi ruang tengah kelententg membawa tampah yang di atasnya berisi kertas dengan doa-doa.

Kertas tersebut dibakar dan diayun-ayunkan secara ritmis ke atas hingga kertas berubah menjadi abu. Ketika api mati, pertanda jika dewa telah dinaikan ke kayangan. Usai ritual, umat pun melakukan doa penutup.

Ibadah sebelum dilakukannya upacara SIang Sin Giu Hok. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Ibadah sebelum dilakukannya upacara SIang Sin Giu Hok. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Upacara Siang Sin Giu Hok ini bermakna, para dewa naik ke kayangan menghadap kepada Yang Maha Kuasa membawa laporan perbuatan baik dan buruk manusia selama satu tahun. Umat Tridharma bernama Budi menjelaskan, jika dulu yang dinaikkan hanya Dewa Bumi, saat ini semua dewa di kelenteng dinaikkan.

“Makanya ada ritual dewa naik gitu. Dia meninggalkan dunia ini melapor ke atas. Kan kalau udah ngerti perbuatan baik kita, mungkin bisa jadi dia lapornya yang baik-baik bukan yang buruk-buruk tentang kita, kan enak,” kata Budi.

Rupang para dewa di Kelenteng Tay Kak Sie. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Rupang para dewa di Kelenteng Tay Kak Sie. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Dia menambahkan, karena dewa akan naik, umat menyiapkan makanan sebanyak mungkin, terutama buah. Persembahan tersebut diberikan karena umat merasa pernah ditolong dewa.

“Yang penting buah. Tapi jangan bawa salak, durian, kedondong, buah pantangan. Sawo juga nggak, kecuali Konghucu, manggis boleh. Tao dan Buddha nggak boleh. Pisang ambon dan pisang raja pada Dewa Bumi boleh. Rambutan saja jarang yang bawa,” lanjutnya.

Nggak heran, ketika saya mengamati altar tempat ibadah terdapat persembahan buah-buahan, makanan, lilin, dan dupa tertata rapi di depan rupang para dewa. Kamu sudah pernah ikut upacara ini belum? (Isma Swastiningrum/E05)