Menengok Keelokan Tari Bedhaya Pangkur dari Keraton Surakarta

Tari Bedhaya Pangkur yang diwariskan sejak 200 tahun lalu ini merupakan simbol dari pengendalian hawa nafsu manusia. Ingin tahu sejarah dan perkembangannya?

Menengok Keelokan Tari Bedhaya Pangkur dari Keraton Surakarta
Tari Bedhaya Pangkur. (Picssr.com)

Inibaru.id – Dari sekian banyak seni tari di Jawa Tengah, ada yang kamu kenal nggak, Millens? Secara umum seni tari di Jawa Tengah bisa dibagi menjadi tiga, yakni tari klasik, tari tradisional, dan tari kreasi baru. Nah, ada salah satu tari klasik yang bernama tari bedhaya. Tari bedhaya pun banyak jenisnya, mulai dari Tari Bedhaya Ketawang, Tari Bedhaya Pangkur, Tari Bedhaya Doradasih, Tari Bedhaya Sinom, dan lain-lain.

Mengutip bukahalaman.blogspot.com, tari bedaya dulunya merupakan tarian keraton yang mencapai puncak kejayaan pada abad 18, khususnya pada masa pemerintahan Paku Buwono II, Paku Buwono III, Paku Buwono IV, dan Paku Buwono VII.

Sebetulnya, jenis tari bedaya pada masa itu lebih banyak lagi, lo. Sayang sekali banyak tari bedhaya yang hilang karena ada larangan bahwa tari keraton tidak boleh dipelajari secara privat dan tidak boleh ditulis.

Baca juga:
Tari Angguk Lebih dari Sekadar Anggukan
Manifestasi Kasih Sayang Ibu untuk Anak dalam Tari Bondan

Yup, saat itu, belajar tari bedhaya harus dilakukan di dalam keraton. Yang boleh belajar pun hanya perempuan yang belum menikah. Alhasil, jarang ada penari yang mendalami tarian sungguh-sungguh. Tari ini baru boleh dipelajari masyarakat umum pada tahun 1970-an, ketika masa pemerintahan Paku Buwono XII.

Nah, dari sekian banyak tari bedhaya, Tari Bedhaya Pangkur menjadi salah satu tari yang istimewa. Tarian yang merupakan karya raja Paku Buwono IV ini sudah berusia 200 tahun.

Gerakan Tari Bedhaya Pangkur ini lembut dan mengalir seiringan dengan nada lagu atau gending Pangkur. Tarian ini didukung oleh instrumen yang cukup sederhana dibanding tari lainnya, yaitu kemanak, kethuk, kenong, gendang, dan gong. Instrumen itu dilengkapi vokal dari sinden.

Seperti ditulis kompasiana.com, ada sembilan penari yang bernama batak, gulu, dhaha, endhel weton, endhel ajeg, apit ngarep, apit meneng, apit mburi, dan buncit. Mereka mengenakan busana, riasan, dan tata rambut yang sama serta memakai bunga yang diletakkan pada kain panjang yang seperti ekor. Dengan begitu, ketika para penari sedang bergerak, bunga-bunga tersebut akan memberikan efek penampilan yang elegan dan agung. Gerakan tarian ini pun halus dan tenteram.

Baca juga:
Capgome, Barongsai, dan Pengusiran Musuh Petani
Cerita Ramayana Disuguhkan lewat Tari Kecak

Yang menarik, jumlah penarinya yang sembilan merupakan simbol mengenai pengendalian hawa nafsu manusia. Keseimbangan hawa nafsu dan akal sehat manusia merupakan dua hal yang menjadi fokus tari bedaya pangkur. Namun, tari ini juga bisa ditampilkan untuk mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran bayi dan untuk menyambut tamu.

Agar kesenian khas ini nggak pudar, kita perlu turut menjaga dan mendukung eksistensinya, lo. Siap, Millens? (AYU/SA)