Menelusuri Sejarah Festival Yaa Qowiyyu di Jatinom

Tradisi Yaa Qowiyyu merupakan tradisi membagi-bagikan kue apem kepada masyarakat yang diselenggarakan setahun sekali di Desa Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Yuk cek, sejarahnya di sini!

Menelusuri Sejarah Festival Yaa Qowiyyu di Jatinom
Gunungan apem dalam Festival Yaa Qowiyyu (metrotvnews.com)

Inibaru.id – Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Jatinom ada tradisi unik yaitu membagi-bagikan kue apem kepada masyarakat. Tradisi yang biasa disebut Festival Yaa Qowiyyu ini diselenggarakan tiap satu tahun sekali yaitu di Bulan Sapar, bulan kedua penanggalan Jawa.

Melansir laman Kompasiana.com (3/11/2017), meski penyelenggaraannya di Desa Jatinom, festival Yaa Qowiyyu dikelola oleh pemerintah daerah karena festival ini merupakan sejarah besar umat Islam di Klaten yang harus dilestarikan.

Tradisi membagi-bagikan kue apem ini bermula saat Ki Ageng Gribig salah satu tokoh penyebar Islam di Klaten pulang dari Mekah setelah menunaikan ibadah haji. Dia membawa oleh-oleh kue untuk dibagikan kepada muridnya. Namun karena jumlah muridnya sangat banyak, kue tersebut nggak mencukupi.

Akhirnya Ki Ageng Gribig membuat kue dari bahan tepung beras yang sekarang kita kenal dengan kue apem. Sebelum membagikan kepada murid-muridnya, Ki Ageng Gribig membaca doa “Yaa qowiyyu, yaa aziz, qowwina wal muslimiin, yaa qowiyyu warzuqna wal muslimiin.” Inti dari doa itu adalah permohonan kekuatan untuk kaum muslimin. Nah, dari doa Ki Ageng Gribig itulah nama Festival Yaa Qowiyyu ini diambil.

Masyarakat bersiap-siap menangkap sebaran apem. (twitter.com)

Festival ini juga memiliki rentetan acara yang cukup panjang. Pertama warga Jatinom akan menyumbangkan kue apem kepada panitia Festival Yaa Qowiyyu. Sumbangan ini sebegai bentuk rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Setelah semua kue apem terkumpul, kemudian apem-apem itu akan disusun membentuk dua gunungan untuk diarak keliling desa. Sebelum arak-arakan dimulai biasanya akan ditampilkan kesenian Reog Ponorogo terlebih dahulu.

Setelah kesenian Reog selesai, tibalah waktu arak-arakan. Eits, orang yang mengarak nggak boleh sembarangan, lo. Mereka harus memiliki garis keturunan dengan pembawa gunungan pada tahun-tahun sebelumnya. Konon, mereka masih trah Ki Ageng Gribig.

Kedua gunungan apem itu pun diarak dari Desa Jatinom menuju ke Kantor Kecamatan Jatinom lalu ke Masjid Alit (Masjid Kecil) Jatinom, dan terakhir ke Masjid Besar Jatinom. Arak-arakan akan berlangsung meriah. Banyak warga menonton arak-arakan dari pinggir jalan raya.

Untuk mengamankan suasana, oraganisasi masyarakat Sedulur Klaten Bersinar (SKB), pasukan Reog Ponorogo diterjunkan untuk menjaga keutuhan gunungan apem. Setelah melewati Kantor Kecamatan Jatinom, araka-arakan akan tambah meriah dengan adanya Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Purna Klaten.

Setelah sampai di tujuan akhir yaitu di Masjid Besar Jatinom, gunungan apem akan diterima oleh tokoh agama Jatinom. Kemudian kedua gunungan akan diinapkan semalam di salah satu pendopo samping Masjid Besar untuk dibagikan keesokan harinya.

Tiap tahun, kue apem yang dibagikan mencapai 4-6 ton, lo. Wah, banyak sekali ya, Millens. Kue apem itu akan dibagikan di kompleks pemakaman Ki Ageng Gribig. Biasanya pada saat pembagian kue apem ini dihadiri oleh pejabat-pejabat Klaten. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bahkan pernah ikut meramaikan acara pembagian kue apem ini.

Seru banget ya, Millens! Dari tradisi ini kita bisa belajar arti berbagi, semangat kebersamaan, serta kerukunan antarmanusia. Semoga tradisi ini akan terus lestari. (IB13/E05)