Mencari Makna dalam Tradisi Siraman Jawa dan Sunda

Siraman biasa dilaksanakan menjelang prosesi pernikahan. Tradisi ini menjadi simbol penyucian jiwa agar kelak calon mempelai dapat mengarungi bahtera rumah tangga dengan jiwa dan raga yang bersih. Mau tahu bagaimana prosesinya? Yuk, simak!

Mencari Makna dalam Tradisi Siraman Jawa dan Sunda
Prosesi siraman (idntimes.com)

Inibaru.id – Sebelum memasuki acara inti pernikahan, calon mempelai biasanya akan melalui ritual siraman. Bagi masyarakat Jawa dan Sunda, siraman seolah menjadi tradisi yang nggak bisa ditinggalkan. Dalam prosesi ini tersirat harapan agar calon pengantin bersih dari kesalahan di masa lalu.

Tahu nggak, Millens, ada pakem-pakem tertentu dalam siraman. Untuk lebih jelasnya, yuk simak aturan siraman adat Jawa dan Sunda. Setidaknya itu yang ditulis di laman Weddingku.com (21/04/2014).

Prosesi Siraman Adat Jawa

Sebelum siraman dimulai, terlebih dulu dilakukan sungkeman. Calon mempelai akan sungkem kepada orang tua sekaligus meminta izin untuk menikah dengan orang yang telah dia pilih sebagai pasangan hidupnya.

Baru deh setelah itu, masuk di tahapan siraman. Calon pengantin akan disiram dengan air yang diambil dari 7 sumber mata air dan telah ditaburi kembang setaman. Orang yang bertugas menyiram harus berjumlah ganjil, baik itu tujuh atau sembilan orang. Biasanya dimulai dari ayah, ibu, kemudian orang yang dituakan dalam keluarga, dan diakhiri dengan juru rias.

Setelah siraman selesai, calon pengantin akan degendong oleh sang ayah menuju kamar pengantin untuk melakukan prosesi selanjutnya yaitu ngerik. Di sini calon pengantin akan dibersihkan dari rambut-rambut halus yang ada di wajah dan tengkuknya oleh juru rias.

Setelah itu rambut dari kedua mempelai akan digabungkan dan ditanam di halaman rumah orang tua. Tahapan ini disebut tanam rikmo. Tujuannya yaitu untuk mengubur semua hal buruk sehingga kelak akan mendapat kebaikan dan kebahagiaan dalam berumah tangga.

Yang terakhir yaitu dulangan pungkasan. Di tahap ini calon mempelai akan mendapat suapan terakhir dari kedua orang tua. Hal ini menandakan berakhirnya kewajiban orang tua dalam memberi penghidupan pada sang anak.

Prosesi Siraman Adat Sunda

Tahap pertama yang harus dilalui adalah ngencangkeun aisan. Dalam tahap ini, ibu dari mempelai wanita akan melepaskan gendongan untuk menuju tempat siraman ditemani ayah yang mendampingi dengan membawa lilin. Hal tersebut mengandung makna bahwa kedua orang tua akan segera mengakhiri tanggung jawabnya yang akan digantikan oleh suami putrinya.

Acara yang kedua yaitu dipangkon, yang mana calon mempelai wanita akan dipangku oleh kedua orang tuanya. Selanjutnya yaitu ngaras, di sini calon pengantin akan membasuh kaki kedua orang tua yang dimulai dari sang ayah terlebih dahulu.

Setelah membasuh kaki, calon mempelai wanita akan dioles/disemprot dengan minyak wangi. Di sini tersirat harapan bahwa sang putri akan terus membawa nama harum keluarga.

Lalu calon mempelai wanita juga harus melewati tujuh lembar kain yang menyiratkan permohonan supaya kelak calon mempelai senantiasa diberi kesabaran, kesehatan, ketawakalan, ketabahan, keteguhan iman yang kuat dan selalu istiqamah menjalankan agama.

Setelah itu memasuki acara inti yakni siraman. Sama seperti siraman adat Jawa, di sini calon mempelai wanita juga akan disiram dengan air yang telah ditaburi kembang setaman. Tiap-tiap bunga memiliki arti tersendiri.

Bunga mawar agar calon pengantin selalu jujur, melati supaya terus membawa harum nama keluarga serta disukai oleh siapa saja, dan bunga kenanga yang membawa harapan agar calon pengantin membawa kesejukan dan keteduhan hati.

Setelah selesai siraman, calon pengantin akan dibersikan dari rambut-rambut halus di wajah dan tengkuk dalam tahap ngerik.

Tahap yang terakhir yaitu parebut beubeutian & hahampangan atau dalam bahasa Indonesia berebut makanan berupa umbi-umbian dan makanan ringan. Di sini ada sebuah harapan agar kedua mempelai diberi kelancaran rezeki dan segera mendapatkan keturunan.

Nah, itu dia tradisi siraman yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Semua tahapan ternyata memiliki makna yang dalam ya, Millens. Tradisi Indonesia memang nggak ada duanya deh! (IB13/E05)