Menari Bersama Roh Bidadari di Dalam Tubuh Suci Penari Sintren

Keluar dari kurungan dengan kostum dan paesan yang menawan, serta berkacamata hitam, lalu menari dengan rancak! Itulah yang mungkin sebagian milenial ketahui tentang Tari Sintren. Namun, nggak banyak yang tahu bahwa ada proses panjang sebelum tarian yang mulai sulit ditemukan itu dimainkan.

Menari Bersama Roh Bidadari di Dalam Tubuh Suci Penari Sintren
Penari sintren tengah "dipersiapkan" untuk menari. (Okezone)

Inibaru.id - Dalam keadaan tak sadar, gadis yang dirasuki “roh bidadari” akan menari dengan indah. Dengan mengenakan kacamata hitam lantaran konon matanya terpejam, dia akan mengikuti iringan lagu Jawa. Sementara, semerbak kemenyan menyeruak memenuhi “panggung”.

Itulah sintren! Panggung yang dimaksud tentu bukanlah gedung pertunjukan nan megah, melainkan tanah lapang atau pelataran rumah yang cukup luas. Penonton menikmati pertunjukan khas pesisir utara Jawa Tengah itu dengan berdiri melingkar, sedangkan para penari di tengah mereka.

Pemain sintren tengah menari. (Instagram/saegaleri)

Sebelum pertunjukan benar-benar dimulai, tari sintren diawali dengan dupan, yaitu ritual berdoa untuk memohon perlindungan Tuhan dari bahaya yang mungkin muncul selama pertunjukan.

Pawang atau dukun mengawalinya dengan melakukan paripurna, yakni menyiapkan satu orang yang akan dijadikan sebagai sintren. Sintren ini ditemani oleh empat dayang yang juga diperankan oleh para penari.

Lantaran tarian perlu dilakukan dalam keadaan suci, penari sintren haruslah belum menikah. Dia juga diwajibkan berpuasa agar tingkah laku dan diri mereka terjaga dari dosa dan zina. Dengan begitu, konon roh dapat memasuki tubuh penari dengan mudah.

Sintren menari setelah "dipandu" sang pawang. (Instagram/bram_dmaestro)

Sebagai permulaan, calon sintren ini memakai pakaian biasa. Mantra pun dibacakan dengan meletakkan  kedua tangan calon penari Sintren di atas asap kemenyan yang dibakar. Penari itu lalu diikat dengan tali dan dimasukkan ke dalam sangkar ayam bersama dengan busana dan perlengkapan rias.

Nggak lama, kurungan tersebut akan bergetar dan terbuka. Ajaibnya, penari di dalamnya sudah berganti penampilan.

Baca Juga: Ihwal Tari Sintren, Kisah Sejoli Beda Kasta di Era Kesultanan Mataram

Busana yang dipakai sintren umumnya berupa baju tanpa lengan yang biasa digunakan dalam tari golek. Baju ini dipadukan dengan kain jarit atau celana cinde. Penari juga memakai jamang, yaitu untaian bunga melati.

Salah satu bentuk pertunjukan sintren "modern". (Instagram/rohmanalghafiqi)

Setelah siap, sintren akan menari. Sementara, sang pawang atau dukun harus terus menyebarkan asap kemenyan agar penari tetap fokus.

Pada sebagian pertunjukkan, tarian akan ditutup dengan temohan. Ini merupakan tahap saat para penari yang membawa nampan mendekati penonton untuk meminta tanda terima kasih berupa uang seikhlasnya.

Tertarik? Datang saja ke daerah-daerah di sekitar pesisir utara Jawa Tengah, Millens. Meski mulai jarang, sesekali kesenian tradisional ini masih digelar masyarakat, kok! (IB20/E03)