Malam Ganjil di Keraton Surakarta, Menyaksikan Arak-arakan Lampu Ting Malam Selikuran

Malam Ganjil di Keraton Surakarta, Menyaksikan Arak-arakan Lampu Ting Malam Selikuran
Malam Selikuran di Solo. (Suara Merdeka)

Kendati listrik sudah ada dan penerangan jalan di mana-mana, lampu ting tetap menjadi pelita dalam arak-arakan Malam Selikuran di Solo.

Inibaru.id – Lailatul Qadar adalah malam yang ditunggu umat muslim selama bulan Ramadan. Malam ini ditunggu lantaran diyakini menjadi malam penuh kebaikan dan kemuliaan. Untuk menyambutnya, warga Kota Solo menggelar tradisi unik yakni Selikuran.

Dengan membawa pelita dan tumpeng, warga melakukan arak-arakan. Biasanya, prosesi Selikuran dimulai di Kori Kamandungan Lor Kereta Surakarta dan berakhir di Masjid Agung Surakarta. Abdi dalem hingga anggota militer pun turut larut dalam prosesi ini.

Menilik sejarahnya, tradisi Malam Selikuran mulai digelar masa pemerintahan Sultan Pakubuwana X. Lantaran pada masa itu belum ada listrik, sang sultán kemudian memerintahkan rakyatnya untuk membawa lampu ting. Meski listrik telah ada, kebiasaan ini tetap berlanjut sampai sekarang.

Berebut berkah nasi tumpeng pada Malam Selikuran. (Rappler)

Tradisi ini semakin berkembang dengan adanya Maleman Sriwedari. Ini merupakan pasar malam yang berada di Taman Sriwedari. Kamu yang pengin mencicipi kuliner khas Solo, sebaiknya mampirlah ke sana.

Eh, ada tradisi apa di tempatmu untuk menyambut malam penuh kemuliaan itu, Millens? (IB15/E03)