Menangkap Pesan Kebersamaan dan Saling Menolong pada Tradisi Temohan

Menangkap Pesan Kebersamaan dan Saling Menolong pada Tradisi Temohan
Mempelai sedang melakukan tradisi Temohan. (Tribunjateng/Mamdukh Adi Priyanto)

Masyarakat pesisir terkenal mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Karakter itu tercermin dari tradisi-tradisinya, salah satunya temohan.

Inibaru.id - Millens, apa kamu pernah mempunyai pengalaman datang ke acara pernikahan tapi bingung karena nggak menemukan kotak untuk memasukkan amplop berisi uang? Bukan karena pihak tuan rumah lupa mempersiapkan wadah, bisa jadi kedua mempelai sedang melestarikan budaya Temohan. Hm, apa tuh?

Temohan atau yang sering disebut saweran merupakan tradisi memberikan uang secara berurutan kepada sepasang pengantin selepas akad nikah. Di pelaminan, pengantin laki-laki dan perempuan sudah menunggu dengan memegang kantong kain sebagai wadah amplop berisi uang dari para tamu.

Tamu yang hadir dalam upacara pernikahan itu akan naik ke pelaminan dan memasukkan amplopnya ke dalam kantong kain itu. Saat amplop masuk ke dalam kain, di situlah saatnya tamu mengucapkan selamat, doa, dan harapan untuk pengantin baru.

Dalam keyakinan mereka, uang yang diberikan para tamu dapat membawa berkah kepada pengantin. Itulah tujuan dari tradisi Temohan, yaitu memberikan bekal atau modal usaha untuk mengarungi kehidupan yang baru.

Tradisi Temohan masih bisa kamu jumpai di daerah Pantura, terutama perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah atau Sunda-Jawa, salah satunya Brebes. Nggak hanya dalam acara pernikahan, Temohan juga ada pada kegiatan lain.

Dilansir dari Tribunjateng (12/9/2018), seorang sejarawan Wijanarto menjelaskan Temohan juga ada dalam berbagai hajatan seperti sedekah bumi, barikan, dan tari sintren. Dalam tradisi Ngasa di Kampung adat Jalawastu, Brebes juga ada Temohan. Namun, bukan uang dalam amplop melainkan makanan yang dibawa warga untuk dimakan bersama-sama saat tradisi Ngasa.

Beda lagi dengan Temohan pada tari sintren. Pada bagian ini, penari akan mendekati penonton dengan membawa nampan atau wadah untuk meminta tanda terima kasih berupa uang.

Kendati berbeda-beda bentuknya, ada satu nilai luhur yang terkandung dalam tradisi Temohan, yaitu semangat masyarakat untuk saling membantu dan meringankan beban agar tujuan tercapai.

“Temohan dapat diimplementasikan dalam berbagai acara kebudayaan. Intinya sama, mengingatkan pada masyarakat arti kolegalitas, kebersamaan, keguyuban di tengah masyarakat individual seperti saat ini,” jelas Wijanarto.

Pesan yang ada dalam tradisi Temohan bagus ya, Millens. Beruntunglah kamu yang masih bisa menjumpai tradisi ini suatu hari nanti. (IB20/E04)