Membuat dan Merawat Wayang Tak Semudah yang Dibayangkan

Membuat dan Merawat Wayang Tak Semudah yang Dibayangkan
Ekky sedang menatah kulit kerbau yang akan dijadikan wayang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Dari wayang berbahan kertas karton, pengrajin wayang asal Semarang ini sekarang sudah beralih ke kulit kerbau agar sesuai pakem wayang kulit untuk pertunjukan. Motifnya yang warna-warni dan selalu berbeda juga membuat wayang bikinannya laris manis diburu kolektor.  

Inibaru.id – Semar menjadi salah satu tokoh wayang paling ikonik saat ini. Dalam dunia pewayangan, ia adalah abdi dalem Pandawa yang bijak, jenaka, dan berkarisma. Lantaran sifat dan laku yang baik itu, nggak sedikit orang yang kemudian memasang Semar di dalam rumahnya.

Bagi sebagian masyarakat Jawa dan Bali, wayang bukan sekadar pajangan atau boneka yang dimainkan dalang. Dulu, wayang adalah bagian dari ritual keagamaan, jadi nggak bisa disimpan sembarangan. Pembuatan wayang bahkan harus diawali dengan berbagai ritual khusus.

Namun, anggapan tersebut agaknya sudah nggak terlalu dipakai lagi sekarang. Tanpa menghilangkan unsur filosofisnya, wayang kini lebih dianggap sebagai karya yang memadukan seni pahat dengan lukis. Semakin detail pembuatannya, harga wayang bakal semakin tinggi.  

Pengrajin wayang kulit asal Kota Semarang Putranda Ekky Prananda mengatakan, menurutnya wayang memang layak dibanderol mahal karena pembuatannya sulit dan lumayan menyita waktu.

"Untuk pembuatan satu wayang, saya membutuhkan waktu hingga dua minggu," tutur lelaki 23 tahun yang mengaku sudah membuat wayang sejak kelas 4 sekolah dasar tersebut, Minggu (22/8/2021).

Alat yang Sederhana, Karya yang Rumit

Wayang yang hampir jadi dan pola wayang yang digambar di kertas. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Wayang yang hampir jadi dan pola wayang yang digambar di kertas. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Ditemui di sanggar sekaligus rumahnya yang berlokasi di bilangan Pudakpayung, Kota Semarang, Ekky mengatakan, bahan dan peralatan untuk membuat wayang kulit sejatinya sangatlah sederhana. Untuk bahan dasar, pengrajin bisa menggunakan kertas karton, kardus, fiber, atau kulit.

“Kulit, kalau saya pakai kulit kerbau. Terus, untuk gapit (penyangga wayang) pakai tanduk kerbau," ujar pemuda yang saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir jurusan Pendidikan Bahasa Jawa di Universitas Negeri Semarang ini.

Sementara, untuk peralatan lain, nggak banyak lagi yang dia gunakan selain alat pahat dan cat. Untuk peralatan memahat, Ekky memakai tatah berbahan bilah baja dengan berbagai macam ujung mata pahat serta palu besar dari kayu.

"Untuk cat, pakai cat pigmen dan cat tembok. Peralatan lain adalah berbagai macam kuas,” terang Ekky sembari memegang palu tatah untuk memahat calon wayang bikinannya. "Kalau sudah ada semuanya, tinggal eksekusi. Ini yang paling penting."

Langkah pertama untuk membuat wayang kulit adalah menggambar pola. Ekky menerangkan, pola bisa dibuat dengan ngeblat (menjiplak) gambar yang sudah ada atau membikinnya langsung sesuai bayangan yang ada di kepala. Yang terakhir ini biasanya diperuntukkan bagi yang sudah pengalaman.

“Kalau sedang belajar dan menginginkan hasil yang pasti bagus, coba ngeblat dari wayang yang sudah ada, yang bentuknya bagus,” beber Ekky.

Motif Berbeda dan Penuh Warna 

Proses penatahan tampak dari atas dengan berbagai alat perkakasnya; palu dan berbagai ukuran tatah. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Proses penatahan tampak dari atas dengan berbagai alat perkakasnya; palu dan berbagai ukuran tatah. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Selesai menggambar, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah memahat bentuk wayang, kemudian memahat sandangannya juga. Ini dilakukan dengan bantuan tatah. Kalau terlihat sudah cukup rapi, bagian-bagian yang dipahat perlu dihaluskan dengan bantuan amplas.

Setelah semua pahatan dirapikan dan diperhalus, Ekky biasanya bakal langsung mewarnai wayang. Untuk warna dasar, dia menggunakan cat tembok berwarna putih. Cat ini dikuaskan menyeluruh hingga permukaan wayang tertutup sempurna.

Jika permukaan wayang sudah rampung dicat, tahap berikutnya adalah membuat motif. Motif ini nantinya akan menimpa warna dasar wayang yang terbuat dari cat tembok. Untuk motif, Ekky memakai cat pigmen.

"Cat pigmen ini beragam, digunakan untuk menggambar dan membuat motif," terangnya. "Sesuka kita saja!"

Oya, Ekky menyukai wayang dengan motif yang berwarna-warni. Karena itulah tiap wayang yang dibuat selalu memiliki berbagai macam perpaduan warna beragam yang detail dan menawan.

"Ciri khas saya motif yang warnanya colorful. Saya juga suka motif yang berbeda-beda antara satu wayang dengan wayang lain yang pernah saya buat," akunya.

Waktu Lama untuk Hasil Terbaik

Berbagai macam cat pigmen dan 'tinta cina' yang digunakan Ekky untuk pewarnaan wayang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Berbagai macam cat pigmen dan 'tinta cina' yang digunakan Ekky untuk pewarnaan wayang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Ekky selalu mengerahkan usaha terbaik untuk tiap wayang yang dibikinnya. Dia memperhatikan tiap detailnya, termasuk motif yang selalu berbeda untuk tiap wayang. Inilah yang membuat proses pembuatan wayang memakan waktu yang cukup lama bagi dia.  

Untuk membuat satu buah wayang, dia menghabiskan waktu hingga dua minggu. Waktu yang cukup lama ini nggak jarang membuat dirinya merasa penat. Ketika perasaan itu muncul, mau nggak mau dia menghentikan pekerjaannya hingga agak lama, baru habis itu membuat lagi.

"Waktu (kuliah) semester dua atau tiga sempat agak jenuh dan nggak megang wayang sama sekali,” kenang Ekky, lalu tersenyum.

Kendati sudah belasan tahun menggeluti profesi sebagai pengrajin wayang kulit, Ekky kadang juga mengalami rasa bosan. Menurutnya, pembuatan wayang memang sulit. Tiap tahap pembuatan memiliki tingkat kesulitannya masing-masing, jadi nggak ada tahap yang paling mudah.

Namun, kesulitan itulah yang membuat Ekky merasa terus tertantang. "Semakin susah, kolektor biasasnya semakin pengin beli barang itu," kelakarnya.

Kesulitan lain, karena wayang kulit adalah perwujudan dari sosok dalam sebuah kisah yang nantinya bakal dimainkan dalang, seorang pengrajin harus betul-betul mengetahui karakter dan penokohannya. Inilah yang kadang menyulitkan. 

"Menjadi kreator (wayang) harus tahu cerita, wujud, dan penokohannya. Bakal percuma kalau membuat tanpa tahu siapa wayang yang dibikinnya," ujar Ekky.

Wayang Pentas dan Wayang Koleksi

Proses pengecatan wayang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Proses pengecatan wayang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Kali pertama belajar menjadi pengrajin wayang, Ekky memakai bahan dasar kertas karton. Namun, kini dia lebih tertarik membuat wayang yang berbahan kulit, menyesuaikan standar yang digunakan dalang untuk pentas. Bahan yang dipakai biasanya kulit sapi atau kerbau, tapi Ekky memilih yang terakhir.

Nggak hanya dari segi bahan, Ekky juga mencoba untuk menaati pakem-pakem lain dalam pembuatan wayang, termasuk di antaranya dari segi gagrak. Oya, gagrak adalah gaya atau kekhasan, yang kerap dikaitkan dengan ciri fisik. Pada wayang, gagrak juga merujuk pada daerah berkembangnya wayang.

“Pakem bentuk wayang itu beda-beda. Kalau dalang sekarang sukanya wayang gagrak Solo," akunya. "Namun, semua wayang itu sebenaranya akulturasi dua atau lebih gagrak yang disatukan.”

Ekky menambahkan, dalang umumnya membeli wayang karena corak warna dan kualitas pegangannya Dia menuturkan, semakin enak digenggam, dalang semakin suka wayang tersebut, karena tujuannya untuk dimainkan saat pertunjukan.

“Kalau kolektor lebih teliti ketimbang dalang. Mereka lebih nritik (mendetail)," kata Ekky, yang mengaku lebih suka kalau wayangnya dibeli dalang, karena sejatinya fungi wayang memang untuk dipakai mendalang, bukan sekadar dipajang.

Oya, setelah mengalami semua proses panjang dalam belajar membuat wayang, Ekky menyimpulkan bahwa membuat wayang sebetulnya mudah asalkan suka dan mau belajar. Merawat wayang juga nggak sulit.

"Wayang yang dipajang kadang melengkung karena lembap atau kepanasan. Sebisa mungkin diangin-anginkan sekali seminggu dan dibersihkan memakai kuas agar nggak berdebu," tandasnya. 

Wah, siapa yang jadi tertarik untuk membuat wayang kulit setelah mendengar cerita Ekky, nih, Millens? (Kharisma Ghana Tawakal/E03)