Sudah Tahu Belum Asal Usul Mudik Lebaran? Yuk Simak!

Lebaran identik dengan tradisi mudik. Tapi tahu nggak sih kalau awalnya mudik nggak ada hubungannya dengan lebaran? Yuk intip penjelasannya!

Sudah Tahu Belum Asal Usul Mudik Lebaran? Yuk Simak!
Suasana mudik lebaran (viva.co.id)

Inibaru.id – Lebaran tinggal menghitung hari. Para perantau mulai mempersiapkan diri pulang ke kampung halaman. Tradisi ini lebih populer dengan istilah mudik. Yap! Mudik lebaran merupakan agenda tahunan masyarakat Indonesia. Mudik dapat menjadi sarana menjalin silaturahmi dengan keluarga di kampung. Namun ternyata tiap generasi memiliki makna yang berbeda. Yuk, cek perbedaan makna mudik lebaran itu!

Melansir Brilio.net (01/06/2018), dalam bahasa Jawa ngoko (kasar), mudik merupakan kependekan dari mulih dilik yang berarti pulang sebentar saja. Namun sekarang mudik sering dikaitkan dengan kata udik yang artinya kampung, desa, atau lokasi yang menunjukan oposisi dari kota.

Pemudik yang akan kembali ke kampung halaman. (rmoljabar.com)

Dari situ mudik diartikan sebagai kembali ke kampung halaman. Jadi sebenarnya mudik nggak ada hubungannya dengan lebaran lo. Kamu bisa saja kok pulang ke kampung halaman kapanpun kamu bisa.

Hanya saja karena libur lebaran biasanya berlangsung berhari-hari, orang jadi tertarik untuk mudik. Ditambah lagi populasi warga muslim di Indonesia paling tinggi. Jadilah istilah mudik kian populer di antara para muslim.

Para perantau yang pulang biasanya nggak hanya bertandang ke rumah saudara-saudara yang masih hidup. Tetapi juga menjenguk anggota keluarga yang sudah meninggal. Hal yang paling umum dilakukan adalah membersihkan makam. 

Petani dari Zaman Majapahit Sudah Mengenal Mudik

Usut punya usut, tradisi mudik sudah dijalankan petani Jawa sebelum masa Kerajaan Majapahit lo. Namun, istilah mudik lebaran baru populer sekitar 1970-an. Pada waktu itu, Jakarta menjadi satu-satunya kota yang dituju para perantau untuk mengadu nasib.

Baru deh pada 2000-an, semakin banyak orang yang merantau ke kota selain Jakarta. Setali tiga uang dengan Jakarta. Mereka yang bekerja di kota lain juga hanya bisa mudik ketika momen lebaran saja sehingga tradisi mudik lebaran pun semakin berakar.

Nah, para pemudik ini memiliki tujuan-tujuan tertentu saat mudik lebaran, lo. Sebagian besar mudik untuk menjalin silaturahmi dengan saudara, kerabat dan tetangga. Mudik juga menjadi pengingat asal usul daerah bagi mereka yang merantau.

Tapi, mudik juga kadang dijadikan sebagai ajang eksistensi diri dan keberhasilan di tanah orang. Mereka yang merantau akan kembali dengan gaya yang berbeda, sangat kekotaan. Dari situ sanak saudara di desa akan ikut merasakan keberhasilannya dalam merantau.

Mudik lebaran juga sering dimanfaatkan untuk liburan bersama keluarga. Mereka akan berwisata bersama untuk menghilangkan penat setelah setahun sibuk bekerja. Sehingga diharapkan ketika masuk kerja kembali akan memiliki semangat yang baru.

Nah, buat kamu para perantau millenial, sudah siapkah untuk mudik lebaran tahun ini? (IB13/E05)