Memaknai Cinta seperti Rahwana kepada Sinta: Setia dan Selalu Percaya

Memaknai Cinta seperti Rahwana kepada Sinta: Setia dan Selalu Percaya
Rahwana dengan Sinta. Ketulusan cintalah yang menggerakkan Rahwana menculik istri dari Rama. (Wargaloka/Afgha Mulia)

Prabu Dasamuka atau yang juga dikenal sebagai Rahwana, Raja Alengka selalu dikenang sebagai penjahat dan Rama-lah pahlawannya. Semua orang mengutukinya dan memuji-muji Rama yang terlalu tampan. Ia memang biangnya angkara murka, tapi tunggu dulu. Ia juga seorang pencinta yang setia.

Inibaru.id - Seumur hidupnya, Rahwana hanya menyerahkan hati pada satu perempuan, Dewi Setyawati. Ketika pertapa cantik ini meninggal, Rahwana bersumpah untuk menemukan titisannya.

Sekian lama menunggu, rasa cinta di hati Rahwana nggak berkurang. Hingga akhirnya, ia bertemu titisan sang dewi dalam diri Sinta. Sayangnya, perempuan ini telah menjadi milik orang.

Bagi Rahwana, kesempatan untuk memiliki Sinta hanya sekali dan nggak boleh disia-siakan. Sinta pun diculik dan dibawa pulang ke Alengka. Selama tiga tahun disekap di dalam sangkar emas, Sinta diperlakukan bagai ratu oleh Rahwana.

Nggak pernah sekali pun ia memaksa Sinta untuk mengikuti kemauan Rahwana. Ia khawatir sang dewi bakal sakit hatinya. Jadi, raksasa berwajah sepuluh ini hanya menunggu. Rahwana sadar, cinta sejati nggak butuh paksaan. Ia yakin suatu saat Sinta bakal membalas cintanya walau entah kapan.

Cinta Rahwana Terbalas

Percaya nggak percaya, Rahwana mendatangi Sinta dengan beragam puisi. Suara yang biasanya menggelegar, diubah sehalus mungkin agar yang terkasihnya nggak takut. Langkah khas raksasa yang mengguncang bumi diperhalus agar nggak mengagetkan.

Ia hanya berdiri di depan pintu istana Sinta. Nggak pernah sekali pun melangkah lebih jauh lagi. Ia khawatir, Sinta nggak menghendakinya.

Bayangkan, itu dilakukan Rahwana setiap hari. Ia selalu meminta maaf kepada Sinta karena telah menculiknya. Namun, Sinta selalu menolak kedatangannya dengan kasar.

Melihat junjungannya teriris hatinya karena kata-kata kasar, para raksasi yang menjadi bodyguard Sinta sampai ikut menangis. Mereka nggak tega melihat rajanya menderita.

Makin lama, Sinta merasakan ketulusan Rahwana. Mungkin benar, jika apa yang dilakukan dari hati akan sampai ke hati.

Rahwana melawan Jatayu ketika menculik Sinta. (Twitter/@HinduGL)<br>
Rahwana melawan Jatayu ketika menculik Sinta. (Twitter/@HinduGL)

Cinta memang bisa mengubah sikap seseorang. Selama Sinta di Alengka, sang Dasamuka berubah menjadi baik dan murah senyum. Suasana kerajaan jadi penuh kedamaian.

Sebenarnya, Sinta mulai tergoda tapi ia nggak mau mengkhianati suaminya. Akan tetapi, apa yang membuat Rama begitu lama menjemputnya? Apakah cinta di hati Rama telah hilang?

“Duhai kasihku, kamulah satu-satunya wanita yang terpatri di tulang dan tercetak di jantung. Aku siap mati untukmu,” begitu kata Rahwana yang penuh harap kepada Sinta.

Sinta menjawab, "Jujur, aku sebenarnya juga mencintaimu. Kamu selalu memperlakukanku dengan baik. Tapi, aku juga tak mau menghianati cinta suamiku. Jika kamu mencintaiku, tolong relakanlah aku dan kembalikanlah aku kepada suamiku."

Mata Rahwana bersinar mendengar pengakuan Sinta. Inilah kata-kata yang ditunggunya sekian lama.

“Baik, jika itu maumu, sebagai ksatria, aku akan berduel satu lawan satu dengan Rama. Jika dia bisa mengalahkanku, aku akan mengembalikanmu kepadanya,” tegas Rahwana.

Hingga akhirnya, Rama datang ramai-ramai bersama tentara wanara dan Hanoman. Rahwana menyambut rivalnya dengan berkata, “Aku mencintai Sinta, Rama! Aku akan melakukan apa pun untuknya. Aku benar-benar mencintainya, bukan sepertimu yang menikahinya hanya karena berhasil memenangkan sayembara. Semua perbuatanku yang kau sebut ‘mengacau’ sebenarnya adalah usahaku dalam rangka mendapatkan kembali Sinta.”

Nasib Tragis Cinta Rahwana

Kalau mengikuti cerita Ramayana, kamu tentu tahu akhir hidup Rahwana. Ia mati di tangan Rama. Sinta sangat girang dan menghambur ke pelukan Rama. Tapi apa yang terjadi? Rama justru mencurigai Sinta telah dinodai.

Penjelasan Sinta nggak diterima begitu saja oleh Rama. Menurutnya, sangat nggak mungkin Rahwana hanya membiarkan Sinta selama bertahun-tahun. Untuk membuktikannya, Sinta masuk ke dalam bara api. Karena ia masih suci, api nggak membakarnya. Barulah Rama percaya.

Melihat pujaan hatinya kembali ke pelukan suaminya, sukma Rahwana menangis sejadi-jadinya. Kenapa bukan ia? Seandainya saja ia yang ikut sayembara di Kerajaan Mantili, pasti ia yang mendapatkan Sinta.

Ia tahu, kesaktian Rama masih kalah jauh di bawahnya. Ia juga menangisi Sinta yang justru lebih memilih laki-laki yang nggak mempercayainya. Padahal, bagi Rahwana, ternoda atau nggak, hatinya akan tetap jadi milik Sinta.

Rahwana menangisi takdirnya. Apa sebenarnya salah raksasa ini? Ia hanya menjalani takdir yang telah ditulis untuknya. Seperti apa pun Rahwana meratap, dunia kadung membencinya dan Sinta yang mencintainya tetap bersanding dengan Rama.

Duh, jadi sedih ya, Millens. Eh, kamu setuju nggak kalau Rahwana itu romantis banget? He (Int/IB21/E03)