Melongok Generasi Muda Penabuh Terbang

Meski sudah jarang ditemui, kesenian terbang di Kudus masih digandrungi para anak muda. Kesenian khas Kudus yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu itu setidaknya dilirik sejumlah anak muda. Bahkan, para remaja di Kudus banyak yang sudah lihai memainkan seni musik yang terdiri atas empat rebana dan satu jidur ini.

Melongok Generasi Muda Penabuh Terbang
Generasi muda penabuh kesenian terbang khas Kudus. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Inibaru.id- Seperti yang jamak terjadi, banyak kesenian yang tinggal menghitung mundur kepunahannya. Ada banyak faktor yang melatari hal tersebut, salah satunya nggak adanya para penerus muda. Namun, hal itu tampaknya nggak akan terjadi pada kesenian terbangan.

Saat acara terbang kolosal pada Minggu (24/3/2019) lalu, terlihat sederet penabuh cilik di barisan paling belakang. Mereka bergumul di antara 105 penabuh terbang yang memeriahkan hajat Ta’sis (peringatan pendirian) Masjid Al-Aqsha Menara Kudus ke-484 menurut penanggalan Hijriah.

Sejumlah 105 penabuh terbang menabuh secara serempak pada acara Terbang Kolosal dalam rangka Ta'sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Minggu (24/3/2019).(Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Salah seorang penabuh cilik itu adalah Muhammad Khusnul Adib. Remaja 15 tahun ini terlihat luwes menabuh lingkaran berlapis kulit sehingga menghasilkan suara yang enak didengar.

Adib mengaku sudah sejak empat tahun yang lalu dirinya menekuni kesenian terbangan. Dia bercerita, kala itu di desanya sedang ada latihan terbangan, kemudian dirinya dan remaja seusianya diajak bergabung. Semenjak saat itulah Adib rajin berlatih kesenian yang juga disebut terbang papat ini.

“Dulu awalnya sih susah tapi kalau sudah tahu tabuhan dan lagunya itu mudah. Nggak ada satu tahun sih (belajarnya) soalnya kalau di desa itu ada latihan setiap malam Ahad (Minggu),” ujar remaja yang berasal dari Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kudus itu.

Kendati belum mengetahui asal usul kesenian ini secara pasti, Adib meyakini terbangan adalah peninggalan Syekh Jafar Shodiq yang nggak lain adalah Sunan Kudus. Karena itulah, dia tertarik untuk “memperpanjang umur” kesenian ini.

“Tertariknya ya karena mudah. Saya juga pengin melestarikan budaya asli kudus,” imbuhnya saat diwawancara Inibaru.id di sela-sela pentas.

Hal ini memang menjadi fokus utama digelarnya pentas Terbang Kolosal dalam serangkaian Ta’sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. Bagi pengelola Menara Kudus, menjaring minat masyarakat terhadap kesenian sekaligus mengangkat kembali budaya Kudus merupakan dua hal yang penting.

Sejumlah orang masih tertarik dan turut melestarikan kesenian terbang khas Kudus. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Pendapat tersebut dilontarkan Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makan Sunan Kudus (YM3SK) Em Nadjib Hasan.

“Kami ingin membuat pencerahan kepada anak-anak muda kalau ini lo Kudus punya kesenian kuno yang bagus, budaya yang bagus,” ujar Nadjib.

Masyarakat Kudus bisa sedikit bernapas lega dengan adanya anak-anak muda yang masih bangga dan turut melestarikan kesenian daerah. Namun, akan lebih baik lagi kalau ada Adib Adib lain yang juga berkontribusi aktif dalam pelestarian kebudayaan Kudus. Tentu saja peran orang  tua dan para pemangku jabatan dibutuhkan dalam hal ini. Setuju kan, Millens? (Ida Fitriyah/E05)