Melihat Proses Nglinting Manual di Pabrik Rokok Indie; Praoe Lajar Semarang

Bertahan di tengah bombardir rokok-rokok modern tentu bukan perkara mudah. Tapi nyatanya Pabrik Rokok Praoe Lajar ini berhasil. Nggak cuma itu, pabrik yang terletak di Jl. Merak No. 15 Semarang ini juga nggak tertarik membawa peralatan canggih lantaran nggak pengin merumahkan karyawan.

Melihat Proses <em>Nglinting</em> Manual di Pabrik Rokok Indie; Praoe Lajar Semarang
Proses pelintingan rokok Praoe Lajar yang (masih) dilakukan secara manual. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Inibaru.id - Jika melintas di Jl. Merak No. 15 Kota Lama Semarang, kamu pasti nggak asing dengan bangunan kokoh bertuliskan Pabrik Praoe Lajar. Ejaan kuno itu selalu menarik mata untuk melirik. Namun tahukah kamu apa yang ada di balik pabrik dengan cat dasar putih tersebut?

Melirik bangunan itu memang mudah, tapi nggak dengan memasukinya. Perlu usaha keras untuk dapat masuk ke bangunan kuno tersebut. Saya yang berkesempatan memasuki tempat yang beralih fungsi menjadi pabrik rokok pada 1955 ini pun sempat menemui berbagai kendala. Namun setelah bernegosiasi dengan pengelola serta bagian keamanan, saya pun diberi kesempatan beberapa menit untuk mengambil gambar.

Setidaknya 40 ribu batang rokok dihasilkan setiap harinya dari Pabrik Rokok Praoe Lajar. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Saat kaki melangkah mendekati bagian produksi, seketika bau tembakau menyeruak memenuhi hidung. Irawan, bagian supervisi mempersilakan saya mengambil beberapa gambar. “Sebentar saja ya mbak,” kata pria yang nampaknya sudah sepuh ini. Saya menyapa pekerja perempuan yang sedang melinting tembakau menggunakan alat manual. Menurut Irawan, ada 340 pekerja yang setiap hari nglinting di pabrik ini.

Kunjungan saya ke pabrik rokok Praoe Lajar masih menyisakan berbagai pertanyaan. Sayangnya pengelola pabrik nggak tahu menahu terkait riwayat gedung cagar budaya yang satu itu.

Rokok Proletar

Bangunan yang masuk dalam bangunan lawas di Kota Lama ini masih terjaga hingga saat ini. Meski terlihat agak kusam di luar, tapi semangat produksi di dalamnya nggak bisa dianggap remeh. Pabrik rokok dengan angka produksi mencapai 40 ribu batang rokok per hari ini masih mampu bertahan di tengah gempuran rokok nasional maupun internasional yang lebih disukai masyarakat.

Rokok Praoe Lajar populer di kalangan petani dan nelayan di wilayah Tegal, Pekalongan, dan kendal. (inibaru.id/ Zulfa Anisah)

“Pemasarannya di wilayah Pekalongan, Kendal, dan Tegal,” kata Irawan lirih. Menurut Irawan, pembeli rokoknya adalah kalangan nelayan dan petani dari tiga wilayah tersebut. Di warung, sebungkus rokok berisi 10 batang dihargai Rp 5.500.

Meski di Kota Semarang pemasaran ini kalah dengan rokok modern, ternyata ada yang mencoba dipertahankan oleh pengelola pabrik berupa kekhasan produknya yang pakai proses produksi manual. Pengelola ternyata juga ogah jika harus merumahkan ratusan pegawainya jika harus mengganti proses produksi dengan mesin. Salut deh!

Selain sebagai suatu kekhasan, perusahaan juga enggan menggunakan mesin agar nggak berdampak pada pengurangan tenaga manusia lo. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Oh ya, untuk bisa berkunjung ke sini, kamu bisa menghubungi beberapa agen tur di Kota Semarang. Bersukaria Walk adalah salah satu penyedia jasa tur di berbagai bangunan dan tempat bersejarah di Kota Semarang termasuk ke pabrik rokok indie ini.

Nggak nyangka banget kan pabrik tua ini masih beroperasi hingga sekarang? (Zulfa Anisah/E05)