Sambut Maulid Nabi, Warga Lombok Pupuk Kekompakan Lewat Tradisi Dulangan

Sambut Maulid Nabi, Warga Lombok Pupuk Kekompakan Lewat Tradisi Dulangan
Tradisi dulangan masyarakat Lombok. (Jadiberita)

Untuk memperingati Maulid Nabi, masyarakat Lombok selalu menggelar tradisi dulangan.Melalui tradisi tersebut, mereka pengin meningkatkan rasa kebersamaan dan saling berbagi.

Inibaru.id – Ada berbagai macam kegiatan untuk menyambut peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW. Salah satunya adalah masyarakat Lombok. Mereka selalu menggelar Tradisi Dulangan setiap Maulid Nabi menjelang.

Dulangan atau bedulangan adalah cara menjamu tamu undangan yang datang di acara syukuran masyarakat Lombok. Di sana, mereka menyajikan satu dulang terdiri atas dua piring nasi, dua mangkuk lauk berkuah, dan dua gelas air seperti yang ditulis Kompasiana.com, Senin (9/5/2016). Bagi mereka, menyajikan dulang mempunyai arti dan makna yang sangat besar, yakni tentang kekompakan.

Kendati demikian, setiap daerah di Lombok menyajikan dulang dalam bentuk yang berbeda-beda. Di Lombok Timur, dulang terdiri atas dua piring nasi, ponjol  (tempat nasi), dua mangkuk untuk lauk berkuah, buah pisang, dan kacang-kacangan. Makanan-makanan tersebut disajikan pada sebuah bakul, kemudian ditutup.

Sementara itu, waktu pelaksanaan tradisi ini berlangsung selama 3 minggu. Setiap desa biasanya memiliki waktu pelaksanaan yang berbeda. Ada yang mengadakan saat pagi, siang, atau malam hari.

Dalam tradisi ini, setiap keluarga (rumah tangga) membawa sebuah dulang untuk diantar ke sebuah masjid. Dulang  tersebut dibawa seorang perempuan dari setiap rumah dengan cara diangkat di atas kepala. Mereka berbaris teratur dan hanya dikomando suara doa bersama yang keluar dari pengeras suara di masjid. Sementara, warga desa yang lainnya akan berkumpul di dalam masjid untuk berzikir bersama, mendengarkan bacaan tilawah, dan sambutan-sambutan, hingga doa bersama.

Dulang dibawa di atas kepala menuju masjid. (Kampung-media)

Dulangan yang dibawa kemudian akan disantap bersama-sama dengan warga desa lainnya. Namun, nggak semua isi dihabiskan, lo. Ada makanan yang disisakan. Tradisi menyisakan makanan ini bertujuan untuk berbagi dengan keluarga di rumah yang nggak bisa hadir dalam acara sehingga mereka tetap bisa ikut menyantap dulang.

Wah, seru juga ya, Millens. Semua bisa kebagian dulang! (IB07/E04)