Macam-Macam Jabatan PNS Pada Zaman Kerajaan Kuno

Macam-Macam Jabatan PNS Pada Zaman Kerajaan Kuno
Ilustrasi: Mangilala Drwhya Haji . (Keraton Yogyakarta on Twitter)

Jika kini Pegawai Negeri Sipil membantu jalannya pemerintahan, dahulu sudah ada Mangilala Drwhya Haji yang memperkuat kedudukan dan kekuasaan seorang raja. Lalu apa saja macam-macam jabatan dan tugas mereka?  

Inibaru.id – Prasasti-prasasti di Indonesia nggak jarang diawali dengan larangan bagi Mangilala Drwhya Haji agar nggak masuk ke daerah tertentu yang ditetapkan sebagai daerah sima atau daerah perdikan yang bebas pajak.

Mangilala Drwhya Haji ini mengacu pada petugas pemungut pajak pada masa lampau. Namun, para ahli kemudian menyimpulkan istilah tersebut sebagai abdi dalem keraton. Pemaknaan ini didukung bukti ditemukannya kata Mamita Drwhya Haji di Bali yang berarti lembaga yang keberadaanya ditentukan dan dibiayai oleh penguasa.

Bertugas melayani raja beserta keluarga, Mangilala Drwhya Haji ini kemungkinan tinggal di ibukota kerajaan. Mereka akan mendapat  gaji yang berasal dari kas kerajaan. Para abdi dalem yang berasal dari rakyat yang bekerja untuk raja ini berfungsi memperkuat kedudukan dan kekuasaan seorang raja.

Di Kerajaan Medang abad IX contohnya, dari berbagai prasasti yang ditemukan, kerajaan ini punya sekitar 328 Mangilala Drwhya Haji. Namun  pada masa Majapahit, hanya tersisa sekitar 125 jabatan.

Berbagai prasasti menyebutkan <i>Mangilala Drwhya Haji </i>dilarang masuk ke daerah <i>sima</i>. (Beritabali.com)
Berbagai prasasti menyebutkan Mangilala Drwhya Haji dilarang masuk ke daerah sima. (Beritabali.com)

Lalu apa saja sih macam-macam golongan Mangilala Drwhya Haji?

1. Para penarik pajak: bertanggung jawab mengumpulkan pajak dari rakyat. Diantaranya yaitu: misra paramirsa, pangulang, pinta palaku, skar tahun, tandas ning mas, turun-turun, tutan, dan wulu-wulu.

2. Pengelola perjudian: bertanggungjawab terkait masalah perjudian. Jabatan ini diisi oleh juru judi, juru legel, lebeleb, leca, dan malandang.

3. Pengrajin: merupakan orang-prang yang membuat kerajinan yang dibagi menjadi pengrajin (menciptakan barang dari kayu), tukang (membuat barang dari besi dan sejenisnya), dan pande (membuat barang dari logam).

4. Pejabat keagamaan: mengurus segala hal terkait keagamaan seperti memimpin upacara  kegamaan atau mengajar kegamaan. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah: air haji, tapa haji, amhat, kawur hyang, makudur, pinghai, tirwan, dan watu walang.

5. Administrator: mengatasi masalah protokoler dan administrasi seperti juru tulis, penasihat raja, atau juru perang.

Para abdi dalem ini punya berbagai tugas. (Kompas/Ferganta Indra Raitmoko)
Para abdi dalem ini punya berbagai tugas. (Kompas/Ferganta Indra Raitmoko)

6. Seniman: kelompok ini bertugas memberikan hiburan pada keluarga kerajaan dnegan berbagai kesenian. Mereka adalah aluwarak, magindung (pesinden), mabika (penari), mapadahi (penabuh gendang), pinglai (penabuh gendang), hingga juru banyol.

7. Tentara kerajaan, yang terdiri atas:  anglingan (prajurit kereta perang), juru salit (ahli tangkis atau kepala tentara), magalah (prajurit bersenjata tombak), makitran (bertugas berkeliling istana), mamanah (prajurit bersenjata panah), palawang (penjaga pintu gerbang), purug (tentara kerajaan), tapukan (tetara berseragam lengkap), upihan (ahli taktik untuk mengatur sesuatu).

8. Pelayan atau budak: bertugas melayani semua kebutuhan raja dan keluarganya dari urusan mencuci, mengurus bantal, urusan makan, urusan pakaian, tukang pijat, urusan perbekalan, dan pembawa tandu.

9. Pengurus pertanian dan peternakan: tentu bertugas memelihara tanaman dan hewan milik raja. Berbagai posisi untuk masalah ini biasanya punya tugas masing-masing yang spesifik seperti membersihkan tanaman atau bahkan menjaga tanaman.

10. Perdagangan dan transportasi: bertugas mengawasi perdagangan sebagai salah satu sumber penghasilan kerajaan. Mereka juga bertugas mengatur kelancaran transportasi perairan yang juga mendukung aktivitas perdagangan.

11. Paranormal: berurusan dengan masalah supranatural dan pennentuan hari baik seperti peramal dan dukun.

12. Penderita cacat: para penghuni istana yang menderita cacat tubuh namun belum jelas apa tugasnya. Mereka biasanya adalah orang yang nggak  mampu berjalan, bungkuk, kerdil, atau menderita cacat tertentu.

Itulah  berbagai bidang Mangilala Drwhya Haji yang masih dibagi dalam berbagai jabatan. Mereka masih bisa dijumpai di Keraton Surakarta pada 1830-an.  Pada masa pemerintahan Pakubuwono X, jumlah abdi dalem ini berusia 10-30 tahun yang digaji sesuai dengan usia.

Nah, itulah kira-kira berbagai jabatan Mangilala Drwhya Haji yang membantu memperkuat kedudukan dan kekuasaan seorang raja. Kini jabatan para abdi negara tentu lebih bekembang dan sesuai dengan kebutuhan ya, Millens! (Kek/IB27/E03)