Upaya Pelestarian Keroncong di Kota Semarang lewat Pentas Keroncong

Salah satu upaya melestarikan keroncong adalah dengan memfasilitasi para pemainnya untuk unjuk diri. Di Semarang, hal itu terwujud dalam suatu pertunjukan rutin bertajuk Pentas Keroncong.

Upaya Pelestarian Keroncong di Kota Semarang lewat Pentas Keroncong
Salah satu penampilan dalam Pentas Keroncong. (Inibaru.id/ Mayang Istnaini)

Inibaru.id – Sobat Millens tahu musik keroncong? Musik khas Indonesia itu identik dengan instrumen seperti ukulele, flute, dan selo. Ada juga instrumen biola, gitar akustik, dan bass. Syahdu sekali jika didengarkan.

Di Kota Semarang, musik keroncong masih eksis dan mendapat tempat di hati masyarakat lo. Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) dan bekerja sama dengan Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI) memiliki satu program kerja khusus keroncong.

Yap, Rabu seakan menjadi Hari Keroncong di Kota Semarang. Sebab pada hari itu selalu diadakan Pentas Keroncong. Lokasinya berbeda-beda, Millens.

Salah satu penampilan dalam Pentas Keroncong. (Inibaru.id/ Mayang Istnaini)

Pada  pekan pertama, pentas diadakan di halaman Kantor Kecamatan Lamper. Pentas pekan kedua diadakan di Gedung RRI dan pekan ketiga di Taman Budaya Raden Saleh. Pada pekan keempat, Pentas Keroncong diadakan di Taman Nada Brumbungan. Biasanya pentas dimulai pada pukul 20.00 WIB dan berakhir pukul 23.00 WIB.

Pengisi acara pada Pentas Keroncong di Kota Semarang pun sudah terjadwal. Orkes-orkes keroncong dari Kota Semarang dan sekitarnya secara bergiliran menjadi penampil.

Rutinitas demikian bisa dikatakan masih jarang ditemui di suatu kota. Selain Semarang, di Jawa Tengah rutinitas pentas keroncong mungkin bisa ditemui di Kota Solo.

Upaya Pelestarian

Pentas Keroncong di Kota Semarang bukan hanya sekadar rancangan program kerja, Millens. Melalui pentas-pentas itu, ada satu upaya pelestarian budaya.

Ketua Bidang Pementasan HAMKRI Semarang, Budi Jayanto mengatakan, salah satu cara melestarikan keroncong adalah memberi fasilitas para pemainnya untuk unjuk diri. Misalnya lewat pentas, siaran radio, atau perlombaan.

“Kelompok keroncong mungkin nggak sebanyak kelompok musik lain. Tapi dengan adanya wadah, kami akan tetap bisa eksis,” kata Budi pada Inibaru.id belum lama ini.

Yap, dengan rutinitas pentas masyarakat akan terbiasa dengan keroncong. Musik yang sudah ada sejak zaman penjajahan itu pun akan tetap lestari terutama di kalangan millenials.

Salah seorang penonton mengabadikan momen di Pentas Keroncong. (Inibaru.id/ Mayang Istnaini)

Eits, meski merupakan musik dari tempo dulu bukan berarti keroncong nggak punya penggemar dari kalangan millenials.

Meski nggak banyak, di beberapa Pentas Keroncong yang diadakan di Kota Semarang masih sering ditemui penonton millenials.

Wah, warga Semarang patut bangga nih. Jangan lupa hadir di Pentas Keroncong rutinnya juga ya! (Mayang Istnaini/E05)