Lopisan, Tradisi Syawalan di Pekalongan

Lopisan, Tradisi Syawalan di Pekalongan
Lopisan dipotong untuk dibagikan. (Pekalongankota)

Tradisi Lopisan merupakan tradisi tahunan menyambut Syawalan di Pekalongan. Tradisi ini nggak hanya sekadar makan kue bersama, tapi juga memiliki makna yang mendalam. Tahukah kamu makna di balik tradisi ini?

Inibaru.id – Masyarakat Jawa Tengah memiliki banyak cara untuk merayakan Syawalan. Jika di Kabupaten Boyolali terdapat tradisi Bakdan Sapi, Pekalongan punya tradisi Lopisan. Ya, lewat tradisi ini, seluruh lapisan masyarakat Pekalongan berkumpul menjadi satu.

Konon, tradisi ini dipelopori oleh KH Abdullah Sirodj, seorang ulama dari Kelurahan Krapyak. Dalam tradisi ini, kue lopis dengan tinggi 2 meter dan diameter 1,5 meter kemudian dibagikan pada warga. Selain lopis, masyarakat Krapyak juga menyediakan makanan dan minuman.

https://assets.kompasiana.com/items/album/2015/07/24/syawalan-2-55b1f23ba6afbd930502ac22.png?v=600&t=o?t=o&v=700

Anak-anak menunggu lopis dipersiapkan sebelum prosesi puncak digelar. (Kompasiana)

Bagi masyarakat Pekalongan, lopis memiliki filosofi tersendiri. Sifat lengket beras ketan yang digunakan sebagai bahan dasar makanan ini merupakan simbol dari persatuan bangsa Indonesia. Meski terdiri atas beragam suku, agama, serta kepercayaan, masyarakat Pekalongan mampu menjaga kerukunan. Hm, maknanya keren, kan?

Pengin ikut merasakan nikmatnya lopis ini? Catat waktunya ya! Tradisi ini digelar seminggu setelah Lebaran saban tahun. Yuk, datang ke Pekalongan dan ikut mengantre saat Lopisan digelar! Selain dapat makanan, siapa tahu bisa dapat pacar baru. Ha-ha. (IB15/E03)