Legenda Tembalang, Berasal dari Mata Air yang Kering Berkat Raden Pandan Arang

Legenda Tembalang, Berasal dari Mata Air yang Kering Berkat Raden Pandan Arang
Patung Kuda Undip, ikon terkenal di Tembalang. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Nggak banyak yang tahu legenda Tembalang. Namanya yang unik ternyata punya hubungan dengan legenda yang beredar di masyarakat. Legenda apa?

Inibaru.id – Jalan-jalan di Kota Semarang kurang lengkap rasanya jika nggak cari tahu asal muasal nama daerahnya. Ya, setiap sudut di Kota Atlas ini menyimpan legenda serta cerita menarik. Salah satunya adalah Tembalang.

Kecamatan yang terletak di Semarang Selatan ini kini telah menjadi salah satu permukiman yang ramai yang penuh dengan fasilitas publik. Nggak heran, kini wilayah ini menjadi wilayah yang cukup padat penduduk. Tapi tahukah kamu asal usul daerah Tembalang?

Menurut cerita tutur yang beredar di masyarakat, asal usul Tembalang punya hubungannya dengan Raden Pandan Arang bersama santri-santrinya. Saat itu Raden pandan Arang mengadakan pertemuan dengan para santri dan abdi dalem.

Bukit Diponegoro, bukti kesuburan Tembalang. (Albertna.com)
Bukit Diponegoro, bukti kesuburan Tembalang. (Albertna.com)

Untuk menempuh perjalanan ke Selatan, Raden Pandan Arang berangkat bersama para santri dan abdi dalem sejumlah 50 orang. Dia bersama para pengikutnya kemudian berhenti di sebuah perkampungan di atas bukit yang sangat subur dengan sebagian besar penduduknya adalah petani.

Nggak hanya subur, daerah tersebut ternyata juga punya sembilan mata air yang menghasilkan air bersih yang melimpah. Warga setempat menyebutnya tuk sanga (Sembilan mata air).

Keberadaan mata air ini tentu menguntungkan bagi warga setempat. Namun semakin lama, kesembilan mata air tersebut mengeluarkan air yang cukup banyak hingga menggenang di berbagai tempat.

Saking besarnya, genangan tersebut bisa membentuk sebuah danau. Warga mencoba menghentikan alirannya dengan menutupinya dengan batu besar namun selalu saja tenggelam. Saat warga mulai putus asa, datanglah Raden Pandan Arang mengambil wudu dan menunaikan salat.

Ilustrasi mata air. (Halo Semarang)
Ilustrasi mata air. (Halo Semarang)

Selepas salat dan berdoa, Raden Pandan Arang berpesan pada warga bahwa sepeninggalnya beberapa mata air nggak akan keluar lagi airnya dan hanya akan ada satu mata air yang berfungsi.

“Cuma satu yang tersisa. Itu masih saudara-saudara perlukan untuk kehidupan sehari-hari. ,” ujar Raden pandan Arang versi cerita tutur.

Setelahnya Raden Pandan Arang berpesan agar warga menjaga kebersihan mata air yang tersisa tersebut dan memberi nama kampung tersebut dengan nama Tembalang. Tembalang berasal dari kata "tambal" dan "ilang" (hilang).

Sepeninggal Raden Pandan Arang, beberapa mata air mulai mengecil dan kemudian berhenti mengeluarkan air. Cuma ada satu mata air yang masih mengeluarkan air, bahkan itu pun dalam jumlah yang sedikit.

Kini kesuburan Tembalang sudah berubah menjadi permukiman dan gedung yang begitu rapat. Kira-kira satu mata air ini terletak di Tembalang sebelah mana ya, Millens? (SM/IB27/E05)