Legenda Bali, Raden Ayu Pemecutan dan Tusuk Konde Emas dari Raja Madura

Legenda Bali, Raden Ayu Pemecutan dan Tusuk Konde Emas dari Raja Madura
Makam Raden Ayu Pemecutan. (Punapi Bali)

Betapa menyesalnya hati Raja Badung usai mengetahui putrinya, Gusti Ayu Made Rai, terbukti nggak bersalah. Dia bukan sedang melakukan ritual ngeleak, melainkan menjalankan salat. Sang Raja nggak tahu putrinya itu telah mengikuti agama suaminya, Raja Madura.

Inibaru.id – Raja Badung, I Gusti Ngurah Gedhe Pemecutan, tengah dilanda gundah gulana. Putrinya yang cantik jelita sedang menderita sakit kuning yang nggak kunjung sembuh.

Putri bernama Gusti Ayu Made Rai itu semakin lemah hingga mengkhawatirkan ayahandanya. Melalui semedi, Raja Badung mendapat wangsit untuk menggelar sayembara dan mengumumkannya hingga ke luar Bali.

Seperti bunyi janji sayembara pada masa lalu, jika yang berhasil menyembuhkan adalah perempuan akan diangkat menjadi keluarga kerajaan. Jika laki-laki, akan diperbolehkan mempersunting sang putri. Tentunya berita ini cepat menyebar dan banyak peminat.

Banyak putra raja yang ikut sayembara dari Tanah Jawa seperti Metaum Pura, Gegelang. Ada juga dari Tanah Banten dan dari Tanah Bali.

Semua peserta mengadu kesaktian. Sayangnya, penyakit putri justru semakin parah, hingga muncullah seorang pemuda tampan dari Bangkalan Madura bernama Pangeran Cakraningrat IV. Dia berhasil menyembuhkan sang putri.

Cinta pada Pandangan Pertama

Sebenarnya, pangeran dan putri sudah saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Jadi, jodoh benar-benar nggak ke mana ya? Sang Raja akhirnya menikahkan putrinya yang cantik dengan pangeran dari Jawa ini.

Setelah pernikahan selesai, Pangeran Cakraningrat memboyong sang putri ke negerinya. Di sana, Gusti Made Rai pun mengikuti kepercayaan Sang Pangeran dengan menjadi mualaf dan mengubah namanya dengan Raden Ayu Pemecutan atau Raden Ayu Siti Khotijah.

Di Bakalan, kedatangan putri disabut dengan baik. Perangainya yang santun dan rajin beribadah membuat sosoknya makin disayang.

Hingga akhirnya, Raden Ayu meminta izin suaminya untuk mengunjungi orang tuanya di Badung. Pangeran yang telah menjadi raja ini mengizinkan. Sayangnya, putri harus datang seorang diri karena kerajaan nggak mungkin ditinggal. Cakraningrat IV memberi pengawalan 40 prajurit untuk mengantar istrinya yang cantik.

Selain pengawal dan prajurit, Cakraningkat IV juga memberikan bekal berupa guci, keris, dan sebuah pusaka berbentuk tusuk konde emas yang diselipkan di rambut sang putri.

Sesampainya di Kerajaan Pamecutan, Raden Ayu disambut riang gembira. Dia ditempatkan di di Taman Istana Monang-Maning Denpasar dengan para dayang-dayang.

Salah Paham yang Berujung Fatal

Tampak luar makam Raden Ayu Pemecutan. (Tribun)
Tampak luar makam Raden Ayu Pemecutan. (Tribun)

Suatu hari ketika mendekati petang, kebetulan sang putri masih berjalan-jalan di puri tempat kelahirannya. Dia kemudian melaksanakan salat Magrib dengan mengenakan mukena berwarna putih.

Seorang patih yang melihat sang putri sedang salat kemudian melapor kepada raja bahwa putri tengah melakukan ritual sesat. Jadi, zaman dulu seseorang yang mengenakan jubah atau baju serba putih dianggap sebagai tanda sedang melakukan ritual ilmu hitam.

Raja murka dan memerintahkan patih untuk membunuh Raden Ayu Siti Khotijah. Sang putri nggak mampu melawan dan mengikuti ke mana pengawal membawanya. Sebelum meregang nyawa, dia berpesan kepada patih dan pengiringnya agar menusuknya dengan konde emas yang dililit daun sirih dan benang dengan tiga warna yang berbeda yaitu merah, putih, dan hitam (Tri Datu).

Dia juga menjelaskan bahwa dirinya tengah salat, alih-alih mengerjakan ritual sesat seperti yang dituduhkan. Di hadapan maut, putri berpesan agar jika asap yang keluar dari tubuhnya berbau busuk, pengawal bisa memakamkannya di mana saja. Namun, jika berbau harum, dia ingin makamnya dikeramatkan.

Ternyata, asap yang keluar dari tubuhnya setelah tusuk konde ditusukkan ke dadanya berbau harum. Hal itu jelas mengejutkan patih dan pengawal. Mereka sangat menyesalkan kejadian itu., termasuk Raja.

Jenazah Raden Ayu kemudian dimakamkan di tempat dia mengembuskan nyawa terakhir, sebuah tanah lapang seluas 9 hektare. Makam ini diurus oleh Gede Sedahan Gelogor yang saat itu menjadi kepala urusan istana di Puri Pemecutan.

Tumbuh Pohon

Kejadian aneh muncul di makam sang putri. Sebatang pohon setinggi 50 sentimeter tumbuh di tengah kuburan tersebut. Keberadaan pohon itu membuat kuburan terbelah. Oleh Sedahan Moning, istri dari Sedahan Gelogor, pohon itu dicabut.

Ajaibnya, pohon itu selalu tumbuh kembali. Akhirnya mereka membiarkan pohon tersebut tumbuh. Menurut penjaga makam yang sekaligus kepala istana kerajaan, saat dia dan istri Sedahan Moning sedang bersemedi di hadapan makam tersebut, Siti Khotijah berwasiat untuk merawat pohon itu.

Konon, pohon tersebut tumbuh dari tusuk konde di rambut Raden Ayu. Hingga sekarang, pohon ini masih ada dan disebut "Taru Rambut". Pohon kepuh, kerabat jauh kapuk randu, yang telah mencapai tinggi 16 meter ini sangat disakralkan oleh warga.

Penerus juru kunci yang sekarang, Jero Mangku I Made Puger mengakui sering menyaksikan hal-hal di luar akal sehat selama menjaga makam ini.

"...ranting atau dahan pohon itu hanya berjatuhan di sebelah makam. Seperti ada yang melempar ke sebelah makam," tutur Jero Mangku. Makam ini ramai dikunjungi umat Hindu maupun Islam, lo.

Lalu, bagaimana dengan 40 pengawal putri? Sebagai bentuk pertanggung jawaban, Raja memberikan tempat bermukin di daerah Kepaon. Kalau pernah ke Bali, kamu pasti tahu jika di sana terdapat kampong Islam Kepaon. Setiap ada perayaan hari besar Islam, keturunan Raja Pemecutan pasti hadir.

Meski nasib putri berakhir tragis, kepergiannya memunculkan toleransi yang berarti ya, Millens? (Sin/IB21/E03)