Melarung Sesaji Dalam Labuhan Hondodento, Mengucap Syukur di Pantai Parangkusumo

Melarung Sesaji Dalam Labuhan Hondodento, Mengucap Syukur di Pantai Parangkusumo
Prosesi Labuhan Hondodento. (Flickr/oka_hamid)

Berdekatan dengan pantai membuat masyarakat Jawa begitu menggantungkan hidup pada lautan, nggak terkecuali warga Yogyakarta. Keturunan Hondodento menggelar tradisi dengan melarung sesaji di Parangkusumo. Kapan tradisi dilangsungkan?

Inibaru.id – Sebagai daerah yang memiliki banyak pantai, Yogyakarta nggak hanya menarik wisatawan lewat keindahan alamnya, namun juga tradisinya. Jika kamu berencana berlibur ke kawasan Pantai Parangkusumo, sebaiknya datanglah saat Labuhan Hondodento digelar.

Tradisi ini merupakan sedekah laut yang dilakukan trah Hondodento pada pertengahan bulan Sura dalam penanggalan Jawa. Labuhan Hondodento dimulai dengan melakukan kirab dari pendapa Cepuro Parangkusuma menuju Pantai Parangtritis.

Para perempuan membawa sesaji pada Labuhan Hondodento. (Flickr/oka_hamid)

Selama prosesi ini, keturunan Hondodento menggunakan pakaian adat Jawa. Para perempuan mengusung sesajian di belakang barisan Bregodo Paksi Katon. Setiba di Pantai Parangkusumo, mereka duduk bersila menghadap lautan. Ritual chaos dhahar pun dimulai.

Setelah chaos dhahar selesai, acara dilanjutkan dengan melakukan prosesi melarung ubarampe dan sesaji. Prosesi ini merupakan prosesi puncak dari Labuhan Hondodento.

Labuhan Hondodento. (Java-promo)

Saat dilarungkan, nggak sedikit warga yang menonton ikut berebut mendapatkan ubarampe dan sesaji itu. Mereka meyakini ubarampe dan sesaji mampu membawa berkah.

Wah, Yogyakarta memang kaya tradisi ya. Sebagian tradisi yang nggak merugikan tentu perlu dilestarikan karena menjadi bagian identitas sebuah suku atau bangsa.

Menuju laut di Pantai Parangkusumo. Dramatis sekali, bukan? (Instagram/doddyarisusanto)

Selain Labuhan Hondodento, datang lagi saat Yogyakarta menggelar tradisi-tradisi unik lainnya ya! (IB15/E03)