Mengenang Masa Lalu dan Meraba Masa Depan Semarang via Festival Kota Lama 2018

Mengenang Masa Lalu dan Meraba Masa Depan Semarang via Festival Kota Lama 2018
Area utama Festival Kota Lama Semarang. (Inibaru.id/Clara Ariski)

“Kangen kenangan bukan sekadar kangen-kangenan, pulang bawa kenang-kenangan.”

Inibaru.id – Tagline ear-catching itu begitu mengena selama perhelatan Festival Kota Lama Semarang yang berlangsung 20-23 September 2018 lalu. Nggak hanya bernostalgia, festival tahunan yang berpusat di Jalan Cendrawasih, Kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, itu menjadi ajang kangen-kangenan sekaligus tempat berburu kuliner serta suvenir untuk kenang-kenangan.

Berada di tengah proyek revitalisasi dan sempat diguyur hujan deras pada hari pembukaan, Kamis (20/9/2018), Festival Kota Lama tetap berlangsung sukses hingga berakhir kemarin. Tema "Beda Masa Satu Rasa" yang dipilih panitia juga sukses mereka sampaikan, yakni: kunokininanti.

Kunokininanti adalah gabungan kata "kuno", "kini", dan "nanti". Nah, festival yang sudah digelar sejak 2012 itu diharapkan bakal bernostalgia dengan kenangan budaya masa lampau, melihat realita dan menikmati Kota Lama sekarang ini, serta menjaga dan mengupayakan pelestarian Kota Lama pada tahun-tahun mendatang. Hm, keren, Millens!

Berbagai pertunjukan kesenian daerah hingga macam-macam kuliner dihadirkan di festival tersebut sejak hari pertama. Pengunjung bisa menikmati jambore ekonomi kreatif, pelbagai pergelaran di atas panggung, dan tentu saja Pasar Sentiling yang mulai dikenal luas pada 2014 lalu.

Deretan stand kuliner di pasar sentiling. (Inibaru.id/Clara Ariski)

Koloniale Tentoonstelling

Pasar Sentiling telah menjadi bagian dari Festival Kota Lama sejak kali pertama digelar pada 2012 lalu. Namun, namanya baru dikenal luas pada 2014, bertepatan dengan seabad Koloniale Tentoonstelling, pameran berskala internasional yang digelar pemerintahan Hindia Belanda di Semarang. Pasar ini adalah bentuk "peringatan" pameran yang melambungkan nama Kota Lunpia tersebut.

Masyarakat Semarang menyebut Koloniale Tentoonstelling dengan nama Pasar Malam Sentiling. Berlangsung sejak 20 Agustus hingga 22 November 1914, pameran itu konon digelar di lahan seluas 26 hektare, yang membentang dari wilayah Randusari hingga Jalan Pandanaran.

Dengan skala yang lebih kecil, Pasar Sentiling tahun ini juga menjadi etalase bagi 30 kuliner legendaris Kota Semarang di antaranya lunpia, pisang plenet, dan ganjel rel.

Pisang Plenet, kuliner legendaris yang ada di Semarang sejak tahun 1952. (Inibaru.id/Clara Ariski)

Seperti tahun sebelumnya, transaksi jual beli di Pasar Sentiling juga memakai uang masa kini, Millens, melainkan uang "Rupiah" khusus yang bisa didapatkan di kasir penukaran. Pecahan Rp 1 bisa ditukar dengan uang masa kini senilai Rp 1.000. Mereka menyediakan Rp 1-50 yang dibedakan dengan warna dan desain gambar.

Uang pecahan satu dan lima rupiah. (Inibaru.id/Clara Ariski)

 

Maka, kangen kenangan di Semarang memang bukan sekadar kangen-kangenan, karena saat pulang tiap pengunjung juga membawa kenang-kenangan. Ha-ha. Sampai jumpa di Festival Kota Lama Semarang tahun depan, Sobat Millens(Clara Ariski/E03)