Rancak Menari Tunggangi Kuda-Kuda Debog di Desa Menari Tanon

Desa Tanon memiliki puluhan tarian yang menarik, salah satunya adalah Kuda Debog. Lewat tarian ini, anak muda diajarkan untuk bekerja sama. Wah, memangnya seperti apa sih tariannya?

Rancak Menari Tunggangi Kuda-Kuda Debog di Desa Menari Tanon
Anak-anak mengenakan kostum untuk tarian Kuda Debog. (Pokdarwi.blogspot.com)

Inibaru.id – Sebagai desa yang dikenal memiliki banyak penari tradisional, warga Desa Tanon di Kabupaten Semarang pasti nggak asing dengan Kuda Debog. Yap, alih-alih mengerutkan dahi, tarian ini sudah menjadi “makanan” mereka sehari-hari.

Sebagai desa wisata yang dikenal dengan seni tarinya, Kuda Debog memang telah dipelajari sebagian besar warganya.

Dalam bahasa Jawa, debog berarti pelepah pisang. Tarian ini memang menggunakan pelepah pisang yang dibentuk menjadi kuda-kudaan. Selain menggunakan pelepah pisang, penari juga membawa kayu yang seolah-seolah menjadi pedang.

Itu saja? Tunggu dulu. Agar semakin menjiwai, penari juga memakai topi dari daun nangka yang dironce.

Kuda Debog dilakukan secara berkelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas empat hingga enam anak laki-laki. Diiringi musik, mereka melakukan tarian dengan adegan perang. Kalau jatuh, maka kelompok itulah yang dinyatakan kalah dan saat itulah tarian berakhir.

(Baca Juga: Betapa Menyenangkan Berwisata ke Dewi Menari Tanon di Lereng Gunung Telomoyo)

Permainan Kuda Debog di Yogyakarta. (Instagram/ceritadestinasi)

Untuk menarikan Kuda Debog, tentu saja tempat yang luas dibutuhkan supaya para penari bisa leluasa bergerak.

Selain kekompakan, tarian ini juga mengajarkan ketangkasan dan kebersamaan. Dengan gerakan-gerakan yang lincah, Kuda Debog otomatis jadi “olahraga” yang menyenangkan.

(Baca Juga: Pilih Pulang Kampung, Kang Tris Bangun Desa Wisata Menari Tanon Semarang)

Hm, ada yang tertarik belajar menari Kuda Debog? (IB15/E03)