Kisah Orang Khoja Pakai Jimat Demi Bebaskan Kota Semarang dari Jepang dalam Pertempuran 5 Hari
Masyarakat Khoja saat menyelenggarakan acara di tengah-tengah Car Free Day Kota Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Kisah Orang Khoja Pakai Jimat Demi Bebaskan Kota Semarang dari Jepang dalam Pertempuran 5 Hari

Masyarakat Khoja berhubungan dengan sejarah Kota Semarang, lo. Mereka pernah bahu membahu membebaskan Semarang dari tangan Jepang. Uniknya, mereka menggunakan cara yang sulit diterima logika yaitu jimat. Seperti apa kisahnya?

Inibaru.id - Pada acara yang digelar oleh Komunitas Khoja Semarang (Khojas) pada Minggu (2/2) di Jalan Pahlawan saat Car Free Day Kota Semarang, saya jadi banyak tahu soal peran masyarakat Khoja bagi kota ini. Ternyata masyarakat keturunan Gujarat ini memiliki peran penting dalam membebaskan Semarang dari penjajah. Haji Annas Salim Harun selaku ketua dari Khoja bercerita banyak. Lelaki 77 tahun ini merupakan keturunan ketiga etnis ini.

Sudah datang sejak lama, tentu masyarakat Khoja telah melewati banyak momen bersejarah di Kota Semarang. Salah satu peristiwa yang paling diingat adalah “Peristiwa Pertempuran 5 Hari”.

Menurut Annas, Pekojan merupakan salah satu target sasaran Jepang dalam Pertempuran 5 Hari. Sebabnya, Jepang tahu kalau di daerah Pekojan berhimpun masyarakat muslim. Karena itu Jepang ingin menyasar daerah tersebut.

Masyarakat Khoja menunjukkan budayanya saat CFD Kota Semarang, Minggu (2/2). (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Masyarakat Khoja menunjukkan budayanya saat CFD Kota Semarang, Minggu (2/2). (Inibaru.id/ Audrian F)

Salah satu contoh perlawanan yang dilakukan masyarakat Koja sedikit di luar nalar. Yakni dengan menggunakan jimat yang diikatkan di dalam saku dan diikuti dengan sebuah bacaan tertentu agar terhindar dari tembakan Jepang.

“Yang mengomando ialah Haji Alwan, Kakek saya. Mereka meminta pemuda untuk melakukan itu (memakai jimat dan bacaan). Memang konon terhindar dari tembakan. Tapi ada yang ditangkap juga yaitu Haji Ayub. Jepang cukup kejam, dia disuruh minum air sebanyak mungkin lalu perutnya diinjak sehingga air itu keluar semua,” cerita Annas yang saat ini didapuk menjadi pengelola pembuatan bubur India di Masjid Kauman.

Sebelumnya, Annas bercerita bagaimana nenek moyangnya datang ke Indonesia. Kira-kira dua abad yang lalu rombongan dari Gujarat bermigrasi ke beberapa daerah. Di antaranya seperti Aceh, Sumatera, dan Semarang.

Haji Annas Salim Harun bercerita banyak mengenai sejarah kedatangan masyarakat Khoja. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Haji Annas Salim Harun bercerita banyak mengenai sejarah kedatangan masyarakat Khoja. (Inibaru.id/ Audrian F)

Nah, rombongan yang ke Semarang itu singgah di musala kecil. Kemudian musala tersebut dinamai dengan “Masjid Djami Pekojan”. Mereka saat itu juga datang bukan dengan tangan kosong, tapi dengan membawa dagangan berupa perhiasan seperti berlian, perhiasan, intan, dan zamrud.

“Masjid Pekojan merekam banyak peristiwa. Dulu masih kecil. Ada beberapa orang yang punya peran dalam membangunnya. Seperti Hj. Muhammad Azhari, Hj Muhammad Yacub, Hj Ahmad. Dengan dipimpin oleh Kapten Abdullah,” ujar Annas. 

Dalam pembangunannya, tambah Annas, Masjid Pekojan dibantu oleh Belanda. Menara yang menjulang tinggi di masjid tersebut merupakan hadiah dari Belanda.

Masyarakat Khoja punya sejarah panjang di Kota Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Masyarakat Khoja punya sejarah panjang di Kota Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

“Di Masjid Pekojan juga, orang-orang Khoja turut melindungi orang Tionghoa dari buruan Jepang. Waktu itu mereka hampir dibunuh. Lalu dengan perlindungan beberapa pengurus Masjid, orang-orang Tionghoa itu selamat,” ungkapnya.

Kini populasi orang Khoja di Indonesia telah mengalami perkembangan. Saat ini mungkin sudah lebih dari tiga juta jiwa. Menurut Annas, hampir dua juta di antaranya berada di Semarang. Di Semarang mereka membentuk komunitas Khoja Semarang (Khoja's).

Saya kagum ketika mendengar jalan hidup orang Khoja juga bisa dibilang sederhana. Bisa mengaji dan bahasa Arab merupakan keterampilan yang cukup. Kamu punya teman orang Khoja yang pintar mengaji nggak? (Audrian F/E05)