Kisah Indonesia dan Eropa yang Terkait Berkat Katak

Kisah Indonesia dan Eropa yang Terkait Berkat Katak
Ilustrasi - Daging katak dari Indonesia diburu negara-negara Eropa. (Twitter.com/happymama_id)

Nggak hanya terkait berkat sejarah penjajahan, Indonesia dan Eropa juga terkait berkat katak. Seperti apa sih kaitannya, ya?

Inibaru.id – Kalau membahas hubungan antara Indonesia dan Eropa, biasanya nggak jauh-jauh dari sejarah penjajahan dulu, ya Millens. Di masa modern, ternyata Indonesia dan Eropa juga bisa terkait gara-gara hewan yang sering kita sepelekan, yakni katak. Lo, ada apa sih hubungan antara katak, Indonesia, dan negara-negara Eropa, ya?

Jadi gini Millens, di negara-negara Eropa seperti Prancis, ternyata ada hidangan yang dibuat dari kaki katak. Hidangan ini laris-manis dan digemari banyak orang. Nah, ternyata kaki-kaki katak ini berasal dari rawa-rawa atau tempat lain di Indonesia, lo. Nyatanya, berdasarkan data pada 2013 lalu, 80 persen impor katak yang dilakukan negara-negara Eropa ternyata dari Indonesia!

Jangan heran ya kalau kamu melihat pemburu katak dengan senter di tangan atau kepala yang berkeliaran di malam hari. Katak-katak yang mereka buru ini kemudian dijual di pasar tradisional. Memang, ada yang dijadikan hidangan lokal sebagaimana Swike khas Purwodadi, namun kebanyakan diekspor ke Eropa.

Nggak hanya dikonsumsi masyarakat Indonesia, daging katak juga diekspor ke luar negeri, khususnya Eropa. (Twitter.com/Dandhy_Laksono)
Nggak hanya dikonsumsi masyarakat Indonesia, daging katak juga diekspor ke luar negeri, khususnya Eropa. (Twitter.com/Dandhy_Laksono)

Di Prancis, kaki katak sangatlah diburu. Setidaknya, 80 juta katak dikonsumsi setiap tahunnya. Nggak ingin membuat populasi katak semakin langka, Prancis pun melarang perburuan katak pada 1980. Hal ini membuat mereka mengimpor katak dari India dan Bangladesh. Namun, kedua negara tersebut kemudian melarang perburuan katak karena populasinya menurun drastis. Sejak saat itulah impor katak beralih ke Indonesia.

Kelompok pemerhati lingkungan Pro Wildlife sebenarnya mengkhawatirkan tingginya jumlah katak yang diburu di Indonesia. Apalagi, katak memegang peran penting bagi ekosistem. Sebagai contoh, hewan ini mengendalikan populasi sejumlah serangga dan hama.

Sayangnya, banyak masyarakat yang mulai mengetahui betapa berharganya katak. Sebagai contoh, pedagang dari Pasar Pagi Bogor bernama Sri Mulyani bahkan mengaku bisa mendapatkan keuntungan Rp 500 ribu setiap hari hanya dari menjual daging katak.

Di satu sisi, katak memang bisa jadi komoditas yang menguntungkan. Apalagi banyak orang di Eropa atau negara-negara lain yang mencarinya sebagai bahan makanan. Tapi, perburuan berlebihan memang bisa memberikan kerugian tersendiri.

Kalau kamu, senang dengan fakta tentang ekspor daging katak yang menguntungkan ini atau justru menyayangkannya, Millens? (Tem/IB09/E05)